MEDIA EMITEN – Nilai tukar (kurs) rupiah kembali melemah menjelang pertemuan The Fed. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa 1 November 2022 ditutup pada level Rp15.647 per dolar AS.
Rupiah hari ini turun 51 poin atau sekitar 0,33% dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp15.596 per dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS menguat 0,8%.
Di pasar antar bank, rupiah ditransaksikan pada level Rp 15.628 per dolar AS atau melemah 30 poin dari hari sebelumnya Rp15.598 per dolar AS.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasar mengantisipasi pertemuan Federal Reserve (Fed) yang dijadwalkan berakhir pada Rabu 2 November 2022. Bank sentral AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps). Pandangan The Fed tentang kebijakan moneter akan diawasi dengan ketat. Suku bunga AS berada pada level tertinggi sejak krisis keuangan 2008.
Sementara itu, data manufaktur yang lebih lemah dari perkiraan dari Tioingkok, importir tembaga terbesar di dunia, menimbulkan kekhawatiran baru atas melambatnya permintaan di negara tersebut. Wabah Covid-19 baru di negara itu juga diperkirakan akan mengganggu aktivitas ekonomi, yang selanjutnya dapat membebani permintaan komoditas.
S&P Global mencatat, indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur Indonesia tumbuh ke level 51,8 pada Oktober 2022. Meski turun cukup dalam dari bulan sebelumnya 53,7 tetapi masih berada di atas 50. Angka di atas 50 artinya ekspansi, sementara di bawahnya adalah kontraksi.
Hal ini menjadi kabar baik di tengah isu resesi dunia, nilai tukar rupiah yang terpuruk, dan Bank Indonesia (BI) yang terus mengerek suku bunga acuannya dalam tiga bulan beruntun sebesar 125 bps menjadi 4,75%.
Sentimen lainnya yang mempengaruhi rupiah adalah data inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,11% (month-to-month/mtm) pada Oktober 2022 atau adanya penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 112,87 pada September menjadi 112,75.
Dengan terjadinya deflasi pada Oktober, maka inflasi tahun kalender Oktober 2022 terhadap Desember 2021 sebesar 4,73% dan inflasi tahun ke tahun (yoy) Oktober 2022 terhadap Oktober 2021 sebesar 5,71%.
Penyumbang deflasi pada Oktober utamanya berasal dari penurunan harga komoditas cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, tomat dan bawang merah.







