MEDIA EMITEN – Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal pekan ditutup anjlok 91,21 poin atau 1,29% di bawah level psikologis 7.000 ke posisi 6.995,44.
Lonjakan inflasi AS memicu kekhawatiran Bank Sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga lebih agresif pada pekan ini. Penurunan IHSG seiring dengan jatuhnya saham-saham Asia.
Mayoritas bursa saham regional Asia ditutup turun, antara lain Indeks Nikkei melemah 836,85 poin atau 3,01% ke 26.987,44, Indeks Hang Seng turun 738,6 poin atau 3,39% ke 21.067,58, dan Indeks Straits Times terkoreksi 41,54 poin atau 1,31% ke 3.140,19.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Jumat (10/6) bahwa indeks harga konsumen AS naik 8,6% pada Mei (yoy), kenaikan tertinggi sejak Desember 1981 dan di atas konsensus 8,3%.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh sektor terkoreksi dengan sektor transportasi & logistik turun paling dalam 3,45%, diikuti sektor teknologi dan sektor energi masing-masing turun 3,43%, dan 3,05%.
Di tengah penurunan tajam IHSG, sejumlah saham mengalami penguatan terbesar diantaranya KIOS, WINR, BIMA, YELO, RMKE. Sedangkan, saham-saham yang mengalami penurunan terbesar diantaranya ADRO, DOID, MDLN, PTDU, SCMA.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing di seluruh pasar yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy di seluruh pasar sebesar Rp376,82 miliar. Sedangkan di pasar reguler tercatat aksi beli asing dengan jumlah beli bersih Rp299,85 miliar.
Baca Juga:
WALOVI Perluas Jangkauan di ASEAN, Gandeng Hong Xin Da untuk Perkuat Distribusi Produk di Singapura
Resmi Debutkan E5 PLUS Setir Kanan di Hong Kong, DFSK Percepat Ekspansi Global
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.578.642 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 27,94 miliar lembar saham senilai Rp16,76 triliun. Sebanyak 96 saham naik, 484 saham menurun, dan 117 tidak bergerak nilainya.






