MEDIA EMITEN – Harga minyak anjlok lebih 2% pada perdagangan yang berfluktuatif pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Kejatuhan Silicon Valley Bank (SVB) menimbulkan kekhawatiran krisis keuangan baru terhadap minyak.
Harga minyak mentah Brent kontrak berjangka turun US$ 2,01, atau 2,4%, menjadi US$ 80,77 setelah sebelumnya jatuh ke US$ 78,34, harga terendah sejak awal Januari 2023.
Minyak mentah Intermediate Texas Barat AS berjangka (WTI) turun US$ 1,88, atau 2,5%, menjadi US$ 74,80 per barel. WTI sebelumnya turun menjadi US$ 72,30 per barel, harga terendah sejak Desember 2022.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Regulator keuangan AS meluncurkan langkah-langkah darurat pada Minggu (12/3/2023) untuk menopang kepercayaan sistem perbankan setelah penutupan SVB yang dikhawatirkan menular pada kegagalan sistem keuangan lain.
Selain Silicon Valley Bank kolaps dan regulator AS juga menutup Signature yang berbasis di New York Bank pada Minggu.
Bursa saham AS diperdagangkan fluktuatif karena investor mempertimbangkan kemungkinan jeda kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada bulan Maret.
“Agak mengejutkan hari ini melihat penurunan besar minyak mengingat fakta bahwa Fed kemungkinan besar akan mengerem menaikkan suku bunga secara agresif dan itu akan menyebabkan pelemahan dolar,” kata analis Price Futures Group Phil Flynn dikutip CNBC International.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang lainnya, turun hampir 1% karena imbal hasil Treasury jangka pendek jatuh. Greenback yang lebih lemah membuat minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Hal ini biasanya mendukung harga minyak.
Administrasi Informasi Energi memproyeksi produksi minyak mentah di tujuh cekungan serpih AS terbesar akan naik pada April ke level tertinggi sejak Desember 2019.







