MEDIA EMITEN – Harga emas jatuh pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), mencatat kerugian untuk sesi ketiga berturut-turut menjadi menetap di level terendah dalam hampir dua minggu. Investor menunggu rilis laporan inflasi harga konsumen AS untuk Juli.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange turun US$ 9,30 atau 0,47% menjadi ditutup pada US$ 1.950,60 per ounce, setelah menyentuh tertinggi sesi di US$ 1.966,10 dan terendah di US$ 1.948,80 per ounce.
Investor menunggu data inflasi. Indeks harga konsumen AS untuk Juli akan dirilis pada Kamis waktu setempat dan indeks harga produsen akan dirilis pada Jumat. Kedua angka tersebut dapat memberikan beberapa wawasan apakah Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lagi pada September.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para ekonom yang disurvei oleh Wall Street Journal memperkirakan harga konsumen naik 0,2% pada Juli, setara dengan kenaikan 0,2% pada Juni. Data Juni datang lebih lambat dari yang diperkirakan para ekonom, memicu harapan bahwa Fed dapat mengakhiri kampanye kenaikan suku bunga lebih cepat.
Emas juga berada di bawah tekanan karena China melaporkan penurunan harga konsumen sebesar 0,3% pada Juli, menurut laporan yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional pada Rabu (9/8/2023). Ini merupakan penurunan pertama dalam dua tahun, meningkatkan momok deflasi dan semakin memperumit pemulihan China pasca pembukaan kembali COVID-19.
Harga emas telah jatuh selama seminggu terakhir karena dolar AS dan imbal hasil obligasi global, khususnya imbal hasil obligasi pemerintah, telah meningkat. Indeks dolar AS turun kurang dari 0,1% menjadi 102,47, tetapi tetap naik 0,4% sejauh minggu ini.
Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun turun moderat sebesar 1 basis poin menjadi 4,01%, sedangkan imbal hasil pada obligasi pemerintah 2-tahun 6 basis poin menjadi 4,8%.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September tergelincir 7,60 sen atau 0,33%, menjadi ditutup pada US$ 22,731 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober turun US$ 11,50 atau 1,27%, menjadi menetap pada US$ 892,70 per ounce.







