MEDIA EMITEN – Harga emas kembali turun pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), tertekan imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang lebih kuat di tengah laporan pekerjaan AS Juni yang dapat membuat Fed lebih hawkish.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange turun US$ 11,70 atau 0,61% menjadi ditutup pada US$ 1.915,40 per ounce, setelah menyentuh level tertinggi sesi di US$ 1.934,00 dan terendah di US$ 1.908,50 per ounce.
Dalam sambutannya pada pertemuan tahunan Asosiasi Riset Bank Sentral di New York Kamis (6/7/2023), Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan mengatakan dia tetap khawatir tentang apakah inflasi akan kembali ke target Fed 2% secara berkelanjutan dan tepat waktu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga akhir tahun ini mendorong emas untuk menetap di level terendah Kamis (6/7/2023) sejak 14 Maret.
Data ekonomi yang dirilis Kamis (6/7/2023) bervariasi. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa permohonan untuk klaim pengangguran naik 12.000 menjadi 248.000 untuk pekan yang berakhir 1 Juli, meningkat dari 236.000 pada minggu sebelumnya.
Automated Data Processing Inc (ADP). melaporkan bahwa pekerjaan sektor swasta AS melonjak sebesar 497.000 pada Juni, jauh di atas ekspektasi 250.000 dan lompatan besar dari 278.000 pada Mei.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan ada 9,8 juta lowongan pekerjaan pada Mei, turun dari 10,3 juta pada April.
Indeks manajer pembelian (PMI) jasa-jasa AS dari S&P Global yang disesuaikan secara musiman turun menjadi 54,4 pada Juni, turun dari 54,9 pada Mei.
Para pelaku pasar sekarang menunggu laporan gaji non-pertanian Departemen Tenaga Kerja pada Jumat waktu setempat. Craig Erlam, analis di platform perdagangan daring OANDA, mencatat bahwa emas tampak “sangat rentan” menjelang laporan data penggajian non-pertanian.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September turun 51,20 sen atau 2,19% menjadi US$ 22,89 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober tergelincir US$ 15,30 atau 1,65% menjadi menetap pada US$ 909,70 per ounce.







