Emas Turun karena Ekuitas AS Memperpanjang Kenaikan

- Pewarta

Kamis, 19 Desember 2019 - 04:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Harga emas merosot jelang FOMC/Dok.

Foto ilustrasi: Harga emas merosot jelang FOMC/Dok.

Mediaemiten.com, Chicago – Emas berjangka di Divisi COMEX New York Mercantile Exchange lebih rendah pada akhir perdagangan Kamis (19/12/2019) karena indeks-indeks acuan di Wall Street memperpanjang kenaikan dan dolar AS semakin menguat.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari turun 1,9 dolar AS atau 0,13 persen, menjadi ditutup pada 1.478,70 dolar AS per ounce.

Investor pasar saham Amerika Serikat tetap optimis setelah Beijing dan Washington pekan lalu menyetujui teks perjanjian ekonomi dan perdagangan fase satu.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Indeks Dow Jones Industrial Average, S&P 500 dan Indeks Komposit Nasdaq memperpanjang kenaikan dan mempertahan rekor tertinggi mereka sebelum penyelesaian transaksi emas.

Ketika ekuitas membukukan keuntungan, emas biasanya turun karena investor tidak perlu mencari tempat yang aman dan mengalihkan investasi mereka ke aset-aset berisiko yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.

Tekanan tambahan datang dari kenaikan dolar AS. Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utamanya, naik lebih lanjut menjadi sekitar 97,40, yang membuat emas yang dihargakan dalam dolar lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lainnya.

Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret 2020 turun 2,3 sen atau 0,13 persen, menjadi ditutup pada 17,049 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari 2020 naik 5,9 dolar AS atau 0,63 persen, menjadi menetap di 935,70 dolar AS per ounce.

Sehari sebelumnya, emas berjangka sedikit lebih tinggi setelah bersusah payah merangkak naik di tengah kenaikan indeks acuan saham AS dan penguatan dolar AS.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari naik tipis 0,1 dolar AS atau 0,01 persen menjadi 1.480,60 dolar AS per ounce pada penutupan perdagangan Selasa (17/12/2019). Indeks-indeks acuan di Wall Street cenderung terus naik karena sentimen investor terangkat setelah China dan Amerika Serikat menyetujui kata-kata dari perjanjian ekonomi dan perdagangan fase-satu. (pep)

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru