MEDIA EMITEN – Harga emas memperpanjang penurunan untuk hari kelima berturut-turut, tertekan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan dolar yang lebih kuat menjelang laporan data pekerjaan AS.
Harga emas sempat di bawah US$ 1.700 per ounce, meski ditutup pada level US$ 1.709,30 per ounce pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, terpangkas lagi US$ 16,90 atau 0,98%.
Yield obligasi pemerintah AS naik di atas 3,2%, sementara indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya mencapai tertinggi baru 20 tahun, di 112, level puncak sejak Juni 2002.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Harga emas telah terjun bebas … setelah putaran lain data ekonomi yang kuat menunjukkan The Fed dapat memberikan lebih banyak kenaikan suku bunga,” kata Ed Moya, analis di platform perdagangan daring OANDA.
Data ekonomi positif yang dirilis pada Kamis juga menekan emas. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa klaim pengangguran awal AS turun 5.000 menjadi 232.000 dalam pekan yang berakhir 27 Agustus.
Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur AS dari S&P Global direvisi lebih tinggi menjadi 51,5 poin pada Agustus dari pembacaan awal 51,3.
Institute for Supply Management (ISM) mengatakan indeks manufaktur tetap di 52,8%, sama seperti Juli, mengalahkan ekspektasi dan tetap di atas ambang batas 50% yang mengindikasikan ekspansi.
Pasar sekarang fokus pada data penggajian non pertanian (NFP) AS yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat. Pembacaan yang kuat kemungkinan akan mempengaruhi The Fed menuju pengetatan kebijakan yang lebih agresif.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 21,6 sen atau 1,21% menjadi US$ 17,666 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober turun US$ 21,5 atau 2,6% menjadi US$ 805,50 per ounce.







