MEDIA EMITEN – Harga emas berjangka melemah pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), memperpanjang kerugian untuk hari kedua berturut-turut tertekan oleh dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di Divisi Comex New York Exchange terkoreksi US$ 1,60 atau 0,08% menjadi ditutup pada US$ 1.922,20 per ounce, setelah menyentuh level tertinggi sesi di US$ 1.926,10 dan terendah di US$ 1.911,40 per ounce.
Dolar AS menguat pada Rabu (28/6) menyusul komentar dari sejumlah pemimpin bank sentral global, termasuk Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang tidak mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga lain oleh Fed pada pertemuan berikutnya pada Juli.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank-bank sentral di seluruh dunia juga menekan emas. Emas menetap di level terendah sejak 14 Maret.
Powell, berbicara pada konferensi Bank Sentral Eropa (ECB) bersama dengan Gubernur Bank Sentral Inggris Andrew Bailey, Presiden ECB Christine Lagarde dan Gubernur Bank Sentral Jepang Kazuo Ueda, mencatat bahwa dua kenaikan suku bunga kemungkinan terjadi tahun ini.
Prospek hawkish pada Fed menjadi pertanda buruk bagi emas, mengingat hal itu mendorong peluang kerugian untuk memegang logam kuning yang tidak memberikan imbal hasil. Gagasan ini sangat membebani emas selama tahun 2023, dengan dolar AS sebagian besar berkinerja lebih baik daripada emas.
Pasar memperkirakan peluang lebih dari 75% bahwa Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli, dan kenaikan lain dengan besaran yang sama di akhir tahun.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September turun 6,40 sen atau 0,28% menjadi ditutup pada US$ 23,084 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober merosot US$ 9,10 atau 0,97% menjadi US$ 924,90 per ounce.







