MEDIA EMITEN – Harga emas terkoreksi pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), memperpanjang kerugian untuk hari kedua berturut-turut namun masih mencatat kenaikan mingguan, setelah data inflasi AS sesuai dengan ekspektasi pasar dan dolar AS sedikit lebih kuat.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange melemah US$ 0,6 atau 0,03% menjadi US$ 1.929,40 per ounce, setelah diperdagangkan mencapai level tertinggi sesi US$ 1.935,40 dan terendah US$ 1.916,50 per ounce.
Emas mempertahankan kenaikan tipis hampir 0,1% untuk minggu ini, kenaikan mingguan keenam berturut-turut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Departemen Perdagangan AS melaporkan pada Jumat (27/1/2024) bahwa indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS tidak termasuk makanan dan energi, ukuran inflasi yang disukai Fed, meningkat 4,4% (yoy) pada Desember, turun dari pembacaan 4,7%pada November dan tingkat kenaikan tahunan paling lambat sejak Oktober 2021.
Data tersebut, sejalan dengan perkiraan pasar, menunjukkan bahwa inflasi AS berkurang.
Sementara itu, dolar AS naik tipis setelah ukuran inflasi utama AS menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, dengan indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,09% menjadi 101,924.
Data ekonomi lainnya yang dirilis Jumat (27/1/2023) juga mengurangi daya emas. Indeks Sentimen Konsumen yang dirilis oleh Survei Konsumen Universitas Michigan (UM) naik menjadi 64,9 pada survei Januari 2023, naik dari 59,7 pada Desember.
National Association of Realtors (NAR) melaporkan bahwa penjualan rumah yang tertunda di AS naik 2,5% pada Desember, mematahkan penurunan beruntun enam bulan.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret turun 39,8 sen atau 1,66%, menjadi US$ 23,622 per ounce. Platinum untuk pengiriman April melemah US$ 6,2 atau 0,61% menjadi US$ 1.016,80 per ounce.







