MEDIA EMITEN – Harga emas anjlok pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), menghentikan kenaikan dua hari beruntun, tertekan penguatan dolar ASdan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS menjelang pertemuan Federal Reserve.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Juni di divisi Comex New York Exchange anjlok US$ 48,10 atau 2,52% menjadi US$ 1,863,6 dolar AS per ounce, setelah menyentuh level terendah sesi di level US$ 1.853,95, terendah sejak pekan yang berakhir 11 Februari.
Emas jatuh karena dolar – saingan utamanya dan penerima manfaat utama dari kenaikan suku bunga AS – melonjak bersama dengan imbal hasil obligasi yang dipimpin oleh obligasi pemerintah AS 10-tahun AS.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik mendekati puncak April di 103,95, yang menandai tertinggi 25-bulan. Indeks dolar AS telah naik mendekati level tertinggi 20 tahun.
Federal Reserve akan menyimpulkan pertemuan kebijakan moneter dua pada Rabu (4/5/2022). Investor secara luas memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin.
Data ekonomi mengecewakan yang dirilis pada Senin (2/5/2022) gagal mendukung emas. Indeks pembelian manajer (PMI) manufaktur S&P Global AS meningkat menjadi 59,2 pada April dari 58,8 pada Maret, level tertinggi sejak September 2021, tetapi sedikit turun dari pembacaan awal 59,7.
Sementara itu, indeks manufaktur Institute for Supply Management (ISM) tercatat di 55,4%, turun 1,7 poin persentase dari pembacaan Maret 57,1%.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli turun 50,1 sen atau 2,17% menjadi US$ 22,584 per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli turun US$ 6,8 atau 0,72% menjadi US$ 932,8 per ounce.







