MEDIA EMITEN – Harga emas menguat pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), menghentikan penurunan 9 hari beruntun, rekor penurunan harian terpanjang dalam lebih dari enam tahun.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di Divisi Comex New York Exchange naik US$ 1,30 dolar AS atau 0,07% menjadi ditutup pada US$ 1.916,50 per ounce, setelah menyentuh tertinggi sesi di US$ 1.926,00 dan terendah di US$ 1.915,90 per ounce.
Dolar AS tergelincir dari tertinggi dua bulan, tetapi masih berada di jalur untuk kenaikan minggu kelima berturut-turut karena ekonomi AS yang solid menyiratkan suku bunga yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dolar AS melemah pada Jumat (18/8), setelah inflasi kawasan euro menunjukkan tanda-tanda pelambatan marjinal. Indeks dolar, yang melacak greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, terakhir diperdagangkan 0,2% lebih rendah di 103,290.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,18% menjadi 103,3831 pada akhir perdagangan.
Turunnya imbal hasil obligasi Pemerintah AS, juga memberikan dukungan pada emas, membantu emas mengakhiri penurunan beruntun terpanjang sejak Maret 2017i. Namun emas masih mengakhiri pekan ini dengan penurunan hampir 1,6%.
Perhatian pasar kini beralih ke simposium kebijakan moneter AS di Jackson Hole, Wyoming, minggu depan. Ketua Federal Reserve Jerome Powell diharapkan akan berbicara di simposium.
Jika Powell terlihat mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga lainnya, emas bisa turun “agak lebih jauh,” kata Lambrecht, meskipun Commerzbank memperkirakan Powell tidak akan berkomitmen untuk bergerak.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September naik 1,80 sen atau 0,08% menjadi US$ 22,733 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober naik US$ 19,40 atau 2,17% menjadi U$ 915,00 per ounce.







