MEDIA EMITEN – Harga emas menguat pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), didorong oleh pelemahan dolar AS yang tertekan oleh data klaim pengangguran AS.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, menguat US$ 10,20 atau 0,56% menjadi ditutup pada US$ 1.826,00 per ounce, setelah diperdagangkan menyentuh level tertinggi sesi di US$ 1.827,30 dan terendah pada US$ 1.811,20 per ounce.
Dolar AS melemah dengan indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya merosot 0,59 persen menjadi 103,8610 pada pukul 15.00 waktu setempat (20.00 GMT).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menyusul pencabutan aturan karantina China untuk pelancong yang masuk mulai 8 Januari, negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan India mengatakan mereka akan mewajibkan tes COVID untuk pelancong dari China.
Kecepatan China membatalkan aturan COVID telah membuat sistem kesehatannya kewalahan dan memicu kekhawatiran tentang penyebaran virus.
“China adalah salah satu kunci menurut saya hingga 2023 dan apa yang terjadi pada ekonomi global,” kata Chris Gaffney, presiden pasar dunia di TIAA Bank.
Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa klaim awal untuk tunjangan pengangguran bertambah 9.000 ke penyesuaian secara musiman menjadi 225.000 untuk pekan yang berakhir 24 Desember, lebih lanjut mendukung emas.
Para analis mengatakan bahwa pertimbangan teknis mendorong emas juga, karena logam mulia terus diperdagangkan di atas level dukungan psikologis penting 1.800 dolar AS per ounce.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 41 sen atau 1,72% menjadi US$ 24,25 per ounce. Platinum untuk pengiriman April bertambah US$ 44,8 atau 4,39% menjadi US$ 1.065 per ounce.







