Wall Street Bervariasi di Tengah Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga

- Pewarta

Rabu, 10 Oktober 2018 - 04:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, New York – Saham-saham AS bervariasi pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu 10/10/2018 pagi WIB), karena kekhawatiran atas kenaikan suku bunga acuan AS meredam sentimen investor.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 56,21 poin atau 0,21 persen menjadi berakhir di 26.430,57 poin, dan Indeks S&P 500 turun 4,09 poin atau 0,14 persen, menjadi ditutup di 2.880,34 poin.

Sedangkan, Indeks Komposit Nasdaq meningkat 2,07 poin atau 0,03 persen, menjadi berakhir di 7.738,02 poin.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Patokan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahun naik menjadi 3,26 persen pada awal perdagangan Selasa (9/10/2018), level tertinggi sejak 2011, sebelum tergelincir menjadi sekitar 3,20 persen.

Investor telah bergulat dengan suku bunga yang lebih tinggi, setelah serangkaian data ekonomi yang kuat keluar pekan lalu.

Tingkat pengangguran menurun menjadi 3,7 persen pada September, dan total lapangan kerja non-pertanian meningkat sebesar 134.000 pekerjaan, departemen tenaga kerja AS mengatakan pada Jumat (5/10/2018).

Pada September, rata-rata penghasilan per jam untuk semua karyawan pada payroll atau penggajian non-pertanian swasta meningkat delapan sen AS menjadi 27,24 dolar AS. Selama setahun, rata-rata penghasilan per jam telah meningkat 73 sen AS atau 2,8 persen.

Ketua The Fed Jerome Powell pekan lalu mengatakan bahwa bank sentral AS memiliki jalan panjang untuk pergi sebelum suku bunga mencapai netral, menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut bisa terjadi dalam waktu dekat.

Data yang kuat dan komentar dari pejabat The Fed dapat menjadi “bullish” untuk ekuitas, tetapi itu datang dengan efek samping memiliki kekhawatiran pada inflasi yang lebih banyak dan kenaikan suku bunga, yang pada gilirannya akan menjadi negatif untuk ekuitas, para ahli mencatat.

Kenaikan imbal hasil obligasi baru-baru ini datang ketika para investor bersiap untuk musim laba mendatang, dengan J.P. Morgan Chase, Citigroup dan Wells Fargo dijadwalkan akan melaporkan hasil kinerja keuangannya akhir pekan ini.

Laba kuartal ketiga diperkirakan akan meningkat 21,5 persen dari periode yang sama tahun lalu. Tidak termasuk sektor energi, estimasi pertumbuhan laba menurun menjadi 18,5 persen, menurut Thomson Reuters. (pep)

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru