MEDIA EMITEN – Harga minyak menguat pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) didorong ekspektaso permintaan Tiongkok yang lebih kuat. Ditambah lagi, pelemahan dolar AS melebihi kekhawatiran tentang penurunan ekonomi global dan dampak kenaikan suku bunga pada penggunaan bahan bakar.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember terangkat 54 sen atau 0,6% menjadi menetap di US$ 85,05 per barel di New York Mercantile Exchange.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember bertambah US$ 1,12 atau 1,2% menjadi ditutup pada US$ 93,5 per barel di London ICE Futures Exchange.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama sesi perdagangan, kedua harga acuan sempat turun lebih dari US$ 1. Untuk minggu ini, WTI turun sekitar 0,7%, sementara Brent naik 2%.
Harga minyak mendapat sentimen positif dari pelemahan dolar AS. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,79% menjadi 111,9 pada akhir perdagangan Jumat. Secara historis, harga minyak berbanding terbalik dengan harga dolar AS.
Dolar melemah terhadap sekeranjang mata uang setelah sebuah laporan mengatakan beberapa pejabat Fed telah mengisyaratkan kegelisahan yang lebih besar dengan kenaikan suku bunga tinggi untuk melawan inflasi, bahkan ketika mereka di garis untuk menaikkan suku bunga besar lainnya untuk November.
Para pedagang meningkatkan posisi menjelang akhir pekan setelah kontrak WTI November berakhir, meningkatkan volatilitas. “Biasanya adalah bermain akhir pekan ke sisi long (beli),” kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.
Baca Juga:
Casio Luncurkan Seri MR-G yang Terinspirasi Fenomena “Brinicle” di Laut Kutub
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
Sementara itu, para pedagang terus menilai implikasi dari perlambatan ekonomi global dan pengurangan produksi besar-besaran yang diumumkan awal bulan ini oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC+.
“Terperangkap antara kekhawatiran permintaan di satu sisi dan pasokan yang ketat di sisi lain, harga minyak kemungkinan akan bergerak di kisaran yang ketat,” analis energi di Commerzbank Research.
Harga minyak juga mendapat dukungan setelah Bloomberg News melaporkan bahwa Beijing sedang mempertimbangkan untuk memotong periode karantina bagi pengunjung menjadi tujuh hari dari 10 hari, meski belum ada konfirmasi resmi dari Beijing.
Tiongkok, importir minyak mentah terbesar di dunia, telah menerapkan pembatasan ketat Covid-19 tahun ini, sangat membebani aktivitas bisnis dan ekonomi serta mengurangi permintaan bahan bakar.
Baca Juga:







