Minyak Melonjak 4%, Brent Tembus US$ 97/Barel

- Pewarta

Sabtu, 8 Oktober 2022 - 11:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Harga minyak  terus naik/IST.

Foto ilustrasi: Harga minyak terus naik/IST.

MEDIA EMITEN – Harga minyak terus naik dan pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) ditutup melonjak 4% ke level tertinggi lima minggu. Sejak OPEC+ memutuskan untuk memangkas produksi 2 juta barel per hari (bph), harga minyak terus menguat.

Harga minyak Brent berjangka naik US$ 3,50 atau 3,7% menjadi US$ 97,92 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 4,19 atau 4,7% menjadi US$ 92,64 per barel.

Kedua kontrak membukukan kenaikan mingguan kedua berturut-turut, dan persentase kenaikan mingguan terbesar sejak Maret minggu ini, dengan Brent naik sekitar 11% dan WTI 17% lebih tinggi.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penguatan Greenbanck tak mampu menahan laju kenaikan harga minyak. Data perkerjaan AS yang solid telah menaikkan imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan mencapai tertinggi satu minggu di 3,906%, hanya sekitar satu poin dari tertinggi 11-tahun di 4,019% yang tercatat pada 27 September.

Semalam, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa ekonomi AS menambahkan 263.000 pekerjaan pada September. Sementara kenaikan lebih rendah dari 315.000 yang direvisi naik Agustus, itu melampaui tingkat 250.000 yang diproyeksikan para ekonom. Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 3,5% dari 3,7% pada Agustus.

Analis menyebutkan, lonjakan harga mendorong kedua benchmark ke wilayah overbought secara teknis untuk pertama kalinya sejak Agustus untuk Brent dan Juni untuk WTI.

“Di antara konsekuensi utama dari pemotongan terbaru OPEC adalah kemungkinan kembalinya minyak US$100,” kata Stephen Brennock dari pialang minyak PVM.

UBS Global Wealth Management juga memproyeksikan Brent akan ‘bergerak di atas angka US$ 100 per barel selama kuartal mendatang’.

Pemotongan OPEC+ datang menjelang embargo Uni Eropa pada minyak Rusia dan akan menekan pasokan di pasar yang sudah ketat.

Sekretaris Jenderal OPEC Haitham al-Ghais mengatakan penurunan target produksi akan membuat OPEC+ memiliki lebih banyak pasokan untuk dimanfaatkan jika terjadi krisis.

Pada Kamis (6/10/2022), Presiden AS Joe Biden menyatakan kekecewaannya atas rencana OPEC+. Dia dan pejabat AS mengatakan Washington sedang mencari semua alternatif yang mungkin untuk menjaga harga agar tidak naik.  

Namun, jumlah rig minyak AS, indikator awal produksi masa depan, turun dua minggu ini menjadi 602, menurut perusahaan jasa energi Baker Hughes Co (BKR.O), karena inflasi yang tinggi memaksa produsen menghabiskan lebih banyak uang untuk mengamankan pekerja dan peralatan.

Berita Terkait

Panduan Cara Memahami Bisnis Bitcoin dan Cara Membelinya
PT STM Sukseskan MotoGP Mandalika 2025, Sediakan Helikopter untuk Transportasi dan Evakuasi Medis
RIIFO Indonesia Memperkenalkan RIIFO Design & RIIFO Care, Solusi Inovatif untuk Industri Perpipaan
Ketahui Fungsi Platform Payment di Indonesia, Mudah dan Aman untuk Transaksi Bisnis
Mega Jaya, Lebih dari Sekadar Distributor Lifting Equipment
Nikmati Liburan dengan Rental Mobil Bandung Lepas Kunci
Perkuat Struktur Pendanaan Jangka Panjang, BRI Fokus Himpun Dana Murah
BRImo Siap Layani Kebutuhan Transaksi Finansial Kapan Saja, Liburan Lebih Tenang

Berita Terkait

Sabtu, 8 November 2025 - 04:56 WIB

Panduan Cara Memahami Bisnis Bitcoin dan Cara Membelinya

Rabu, 8 Oktober 2025 - 10:55 WIB

PT STM Sukseskan MotoGP Mandalika 2025, Sediakan Helikopter untuk Transportasi dan Evakuasi Medis

Senin, 22 September 2025 - 17:21 WIB

RIIFO Indonesia Memperkenalkan RIIFO Design & RIIFO Care, Solusi Inovatif untuk Industri Perpipaan

Jumat, 19 September 2025 - 21:34 WIB

Ketahui Fungsi Platform Payment di Indonesia, Mudah dan Aman untuk Transaksi Bisnis

Jumat, 12 September 2025 - 07:09 WIB

Mega Jaya, Lebih dari Sekadar Distributor Lifting Equipment

Berita Terbaru