MEDIA EMITEN – Harga minyak terus naik dan pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) ditutup melonjak 4% ke level tertinggi lima minggu. Sejak OPEC+ memutuskan untuk memangkas produksi 2 juta barel per hari (bph), harga minyak terus menguat.
Harga minyak Brent berjangka naik US$ 3,50 atau 3,7% menjadi US$ 97,92 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 4,19 atau 4,7% menjadi US$ 92,64 per barel.
Kedua kontrak membukukan kenaikan mingguan kedua berturut-turut, dan persentase kenaikan mingguan terbesar sejak Maret minggu ini, dengan Brent naik sekitar 11% dan WTI 17% lebih tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penguatan Greenbanck tak mampu menahan laju kenaikan harga minyak. Data perkerjaan AS yang solid telah menaikkan imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan mencapai tertinggi satu minggu di 3,906%, hanya sekitar satu poin dari tertinggi 11-tahun di 4,019% yang tercatat pada 27 September.
Semalam, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa ekonomi AS menambahkan 263.000 pekerjaan pada September. Sementara kenaikan lebih rendah dari 315.000 yang direvisi naik Agustus, itu melampaui tingkat 250.000 yang diproyeksikan para ekonom. Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 3,5% dari 3,7% pada Agustus.
Analis menyebutkan, lonjakan harga mendorong kedua benchmark ke wilayah overbought secara teknis untuk pertama kalinya sejak Agustus untuk Brent dan Juni untuk WTI.
“Di antara konsekuensi utama dari pemotongan terbaru OPEC adalah kemungkinan kembalinya minyak US$100,” kata Stephen Brennock dari pialang minyak PVM.
Baca Juga:
Casio Luncurkan Seri MR-G yang Terinspirasi Fenomena “Brinicle” di Laut Kutub
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
UBS Global Wealth Management juga memproyeksikan Brent akan ‘bergerak di atas angka US$ 100 per barel selama kuartal mendatang’.
Pemotongan OPEC+ datang menjelang embargo Uni Eropa pada minyak Rusia dan akan menekan pasokan di pasar yang sudah ketat.
Sekretaris Jenderal OPEC Haitham al-Ghais mengatakan penurunan target produksi akan membuat OPEC+ memiliki lebih banyak pasokan untuk dimanfaatkan jika terjadi krisis.
Pada Kamis (6/10/2022), Presiden AS Joe Biden menyatakan kekecewaannya atas rencana OPEC+. Dia dan pejabat AS mengatakan Washington sedang mencari semua alternatif yang mungkin untuk menjaga harga agar tidak naik.
Baca Juga:
Namun, jumlah rig minyak AS, indikator awal produksi masa depan, turun dua minggu ini menjadi 602, menurut perusahaan jasa energi Baker Hughes Co (BKR.O), karena inflasi yang tinggi memaksa produsen menghabiskan lebih banyak uang untuk mengamankan pekerja dan peralatan.








