Meskipun Rupiah Melemah, Emiten MARK Tetap Optimis. Mengapa?

- Pewarta

Senin, 10 September 2018 - 02:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, Medan – PT Mark Dynamic Indonesia Tbk (MARK) tetap optimis Perseroan dapat memenuhi target kinerja yang ditetapkan meskipun Rupiah terus terdepresiasi dan menyentuh angka Rp 14.891 per Dolar AS.

Presiden Direktur MARK, Ridwan, menyatakan bahwa kinerja Perseroan tetap pada jalur pertumbuhan yang ditetapkan meskipun volatilitas Rupiah cukup tajam dalam beberapa
bulan terakhir.

“Meskipun sebagian besar komponen biaya berdenominasi Dolar AS,
penjualan kami mayoritas untuk pasar ekspor sehingga kami malah mendapat berkah dari hal ini,” kata Ridwan.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perseroan saat ini memiliki struktur biaya produksi dengan komponen impor yang tinggi, dengan kisaran sekitar 50% dafi total biaya. Untuk bahan baku pergerakan nilai tukar Rupiah relatif terjaga karena sudah ada kontrak pasokan untuk periode tertentu.

Namun demikian dengan penjualan dengan komposisi ekspor lebih dari 90 %, Perseroan mendapat berkah dari
selisih kurs yang diterima.

‘”Perseroan mengalami natural hedging atas perbedaan selisih kurs ini, dan membuat kami tetap dapat menjaga struktur biaya yang rendah. Untuk itu kami juga dapat memastikan target
2018 akan tetap tercapai sesuai dengan rencana,” ungkap Ridwan.

Mark Dynamics Indonesia sebagai produsen utama cetakan serung tangan karet, mentargetkan pencapaian kinerja tahun 2018 dengan pendapatan sebesar Rp 310,5 miliar dengan target laba bersih setelah pajak sebesar Rp 72 miliar.

Hingga 30 Juni 2018, Perseroan
berhasil mencatat pendapatan sebesar Rp 155,45 miliar, atau 50.1% dari target.

Sementara pencapaian laba bersih hingga semester pertama tahun 2018 sebesar Rp 36,54 miliar atau 50.1% dari target laba bersih tahun 2018.

Secara khusus apabila dilihat dari perkembangan nilai tukar dolar terhadap rupiah di akhir tahun 2015 sampai akhir tahun 2Afi yang berkisar di 13.795 dan 13.548 rupiah per dolar, perseroan selalu membukukan pendapatan netto dari selisih kurs.

Hal ini disebabkan karena kontributor pendapatan terbesar berasal dari ekspor, dengan nilai mencapai 97 % dibandingkan pasar lokal.

Walaupun bahan baku juga sebagian besar impor, akan tetapi pengelolaan hutang perseroan yang dalam mata uang dolar juga masih cukup baik, yaitu dapat dilihat dari rasio perputaran hutang yang masih lebih besar dibanding rasio perputaran piutang.

Rasio perputaran hutang di tahun 2016 sebesar 25,6 dan 9,7 di tahun
2017, sedangkan rasio perputaran piutang di tahun 2016 sebesar 4 ,8 dan 4,2 di tahun 2017.

Perseroan juga memiliki pinjaman bank dalam mata uang dolar yang ditujukan untuk membiayai modal kerja dengan rasio terhadap modal yang masih rendah yaitu sebesar 0,16 di
tahun 2017. Sehingga perseroan masih dapat meminimalisasi dampak fluktuasi nilai tukar dolar.

Jadi dampak pelemahan rupiah bagi perseroan, selama perseroan masih mengelola hutang dengan baik, justru akan meningkatkan pendapatan perseroan dan bahkan diperkirakan secara jangka panjang akan mendapatkan beberapa keutungan lain dari dampak kebijaksanaan
makro pemerintah seperti kemudahan ekspor dan lain-lain.

Akan tetapi perseroan mengharapkan pelemahan rupiah masih dalam batas yang mempengaruhi kondisi makro yang berdampak terhadap faktor-faktor lain diluar keuntungan kompetitif perseroan. (zal)

Berita Terkait

Resmi Dibuka, Astra Auto Fest 2025 Semarak Beragam Promo dari Grup Astra
Pasar Modal Indonesia Waspada, CSA Index September 2025 Terkoreksi
Strategi BUMI Kuasai Wolfram, Tambang Emas Jumbo di Queensland Australia
Analisis: Keterlambatan Laporan Keuangan Picu Asimetri Informasi di Pasar
Strategi SMMA Konversi Utang Jadi Saham, Langkah Cerdas Atasi Beban Finansial
CSA Index RI Agustus Tertinggi Sejak Awal Tahun
Strategi Baru Remala Abadi: Transaksi Saham Komisaris Tingkatkan Kontrol Bisnis
Pasca Keluar dari LQ45, SIDO Pindah Fokus dari Domestik ke Internasional

Berita Terkait

Jumat, 5 Desember 2025 - 18:00 WIB

Resmi Dibuka, Astra Auto Fest 2025 Semarak Beragam Promo dari Grup Astra

Jumat, 12 September 2025 - 22:03 WIB

Pasar Modal Indonesia Waspada, CSA Index September 2025 Terkoreksi

Rabu, 20 Agustus 2025 - 15:17 WIB

Strategi BUMI Kuasai Wolfram, Tambang Emas Jumbo di Queensland Australia

Rabu, 20 Agustus 2025 - 10:11 WIB

Analisis: Keterlambatan Laporan Keuangan Picu Asimetri Informasi di Pasar

Senin, 18 Agustus 2025 - 11:46 WIB

Strategi SMMA Konversi Utang Jadi Saham, Langkah Cerdas Atasi Beban Finansial

Berita Terbaru