MEDIA EMITEN –Harga minyak turun sekitar 1% pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) dalam sesi yang bergelombang, mereduksi kenaikan yang terjadi di awal perdagangan. Pasar khawatir ancaman resesi yang mengahpus optimisme kenaikan permintaan menyusul pencabutan pembatasan Covid-19 di China.
Harga minyak Brent berjangka turun 94 sen sekitar 1,1% menjadi menetap di US$ 84,98 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 70 sen atau sekitar 0,9% menjadi US$ 79,48.
Harga minyak membalikkan kenaikan pada sore hari bersama dengan melemahnya indeks utama Wall Street karena komentar hawkish dari pejabat Federal Reserve (Fed) AS memicu kekhawatiran bank sentral mungkin tidak menghentikan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasar pada awalnya bereaksi positif terhadap data AS, yang menunjukkan penjualan ritel dan produksi manufaktur turun lebih dari perkiraan pada bulan Desember, di tengah harapan The Fed sekarang akan melonggarkan kenaikan suku bunga.
Namun, kenaikan itu berumur pendek karena Presiden Fed St. Louis James Bullard dan Presiden Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan suku bunga perlu naik melampaui 5% untuk mengendalikan inflasi.
“Penjualan ritel, penurunan tajam dalam produksi industri dan berita lebih banyak PHK menambah kekhawatiran AS sudah bisa berada dalam resesi,” analis di ING, sebuah bank, mengatakan kepada pelanggan dalam sebuah catatan. .
Harga minyak di awal sesi menguat menyusul China melaporkan data ekonomi yang mengalahkan perkiraan setelah negara tersebut mulai memutar kembali kebijakan nol-Covid pada awal Desember.
Baca Juga:
Casio Luncurkan Seri MR-G yang Terinspirasi Fenomena “Brinicle” di Laut Kutub
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
Pencabutan pembatasan Tiongkok akan meningkatkan permintaan minyak global ke rekor tertinggi tahun ini, menurut Badan Energi Internasional (IEA), sementara sanksi batas harga terhadap Rusia dapat mengurangi pasokan.
Rystad Energy, seorang konsultan, mengatakan efek sanksi terhadap ekspor minyak mentah Rusia setelah 1,5 bulan embargo Uni Eropa dan pembatasan harga G7 tidak separah yang diperkirakan beberapa orang.
Analis memperkirakan penarikan stok minyak mentah AS sekitar 600 ribu barel pekan lalu, jajak pendapat Reuters menunjukkan, yang dapat memberikan beberapa dukungan harga.
American Petroleum Institute (API) ditetapkan untuk merilis data industry. Pemerintah AS melaporkan pada pukul 11 pagi hari Kamis. Kedua laporan mingguan tersebut ditunda sehari karena hari libur federal Hari Martin Luther King hari Senin.
Baca Juga:







