MEDIA EMITEN – Jelang rilis data inflasi, dolar AS terus bergerak naik pada Selasa pagi, 12 April 2022, menembus level 100. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun juga melewati 28%.
Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya naik 0,13% di 100,055 pukul 10.47 WIB. Indeks menguji level tertinggi dua tahun di dekat 100,19 yang dicapai selama minggu lalu.
Penguatan dolar “paling jelas terhadap yen Jepang (JPY) dan mata uang asia lainnya. Pasar mengantisipasi kemungkinan Bank Sentral AS (The Fed) secara agresif mengetatkan moneternya dengan menaikkan suku bunga dan mengurangi obligasinya dalam neraca.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Analis CBA memperkirakan inflasi AS yang sangat tinggi akan memperkuat ekspektasi pengetatan Fed yang agresif. Karena kenaikan suku bunga 50 basis poin belum sepenuhnya diperhitungkan untuk masing-masing dari dua pertemuan Fed berikutnya, ia memperkirakan kenaikan lanjutan untuk dolar.
“Kami memperkirakan dolar akan tetap dalam penawaran beli dan menopang ke level tertinggi pandemi 103 poin dalam beberapa bulan mendatang,” katanya dalam sebuah catatan pagi ini.
Imbal hasil jangka panjang AS juga melanjutkan tren kenaikan, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun acuan mencapai 2,836%, tertinggi sejak Desember 2018. Imbal hasil obligasi Treasury 30 tahun juga naik ke 2,86%, level tertinggi sejak Mei 2019.
Sementara itu, euro melepaskan kenaikannya dari Senin, setelah Presiden petahana Perancis Emmanuel Macron mengalahkan saingannya Marine Le Pen di putaran pertama pemilihan presiden pada 10 April. Mata uang tunggal ini terakhir diperdagangkan ke $1,087 dan tidak jauh dari penutupan Jumat.
Baca Juga:
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
Penurunan harga minyak juga membatasi keuntungan untuk dolar Australia dan Selandia Baru yang terkait komoditas.







