MEDIA EMITEN – Harga minyak berjangka melemah pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) karena penguatan dolar AS.Investor khawatir kenaikan suku bunga Federal Reserves akan memperlambat ekonomi sehingga memangkas permintaan bahan bakar.
Harga minyak mentah Brent turun 20 sen, atau 0,2%, menjadi US$ 85,38 per barel, sementara West Texas Intermediate AS (WTI) minyak mentah turun 47 sen, atau 0,6%, menjadi US$ 78,59.
Dolar AS menguat mendekati level tertinggi 6 minggu di tengah data penjualan ritel AS Januari yang kuat dan data inflasi AS baru-baru ini. Sejumlah data ini akan menjadi pijakan Fed mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Harga minyak mentah berada di bawah tekanan karena dolar menguat menyusul data ekonomi mengesankan yang membuka jalan bagi pengetatan Fed lebih lanjut,” kata analis pasar OANDA, Edward Moya dikutip CNBC International.
Penguatan dolar dapat memangkas permintaan minyak, karena minyak mentah lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Pejabat Federal Reserve mengatakan bank sentral AS perlu mempertahankan kenaikan suku bunga secara bertahap untuk melawan inflasi. Investor khawatir suku bunga yang lebih tinggi dapat memperlambat perekonomian.
Sementara Administrasi Informasi Energi (EIA) AS mengatakan stok minyak mentah AS melonjak 16,3 juta barel pekan lalu menjadi 471,4 juta barel, tertinggi sejak Juni 2021. Itu jauh lebih besar dari perkiraan analis peningkatan 1,2 juta barel dalam jajak pendapat Reuters. Namun para analis mengatakan penyesuaian pasokan minyak mentah yang besar berkontribusi pada kenaikan.
Baca Juga:
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
IEA menaikkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak 2023. IEA memproyeksi ada defisit pasokan di paruh kedua karena produksi yang terkendali OPEC+.
IEA mengatakan Tiongkok akan menghasilkan hampir setengah dari pertumbuhan permintaan minyak tahun 2023 setelah melonggarkan pembatasan Covid-19, dan mengatakan sekitar 1 juta barel per hari produksi dari Rusia akan dihentikan pada akhir kuartal pertama.
Pada Selasa, OPEC menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global dan pasar akan lebih ketat pada 2023.
Baca Juga:







