Harga Minyak Anjlok, Kekhawatiran Resesi Meningkat

- Pewarta

Kamis, 8 September 2022 - 07:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Pipa angguk untuk eksplorasi minyak/Dok.

Foto ilustrasi: Pipa angguk untuk eksplorasi minyak/Dok.

MEDIA EMITEN –Harga minyak anjlok pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Kekhawatiran resesi ekonomi global meningkat menyusul data perdagangan China yang suram.

Minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober anjlok US$ 4,94 dolar AS atau 5,7% menjadi US$ 81,94 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November turun US$ 4,83 atau 5,2% menjadi US$ 88 per barel di London ICE Futures Exchange.

Baik kontrak acuan minyak mentah WTI AS maupun minyak mentah global Brent menetap di level terendah sejak Januari, menurut Dow Jones Market Data. Bahkan minyak merosot di bawah level sebelum invasi Rusia ke Ukraina.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemunduran terjadi karena pedagang semakin takut bahwa pengetatan kebijakan agresif oleh bank-bank sentral utama untuk mengekang inflasi yang memanas akan menyebabkan resesi global sehingga mengurangi permintaan energi.

“Saat ini pasar mendasarkan kekhawatirannya tentang apa yang akan terjadi karena harga energi yang meningkat tajam di Eropa, permintaan yang melambat di Eropa, dan kenaikan suku bunga,” kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group.

Bank Sentral Eropa (ECB) secara luas diperkirakan akan menyetujui kenaikan suku bunga besar ketika bertemu pada Kamis waktu setempat. Sementara itu, data ekonomi AS baru-baru ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan tetap hawkish.

Bank Sentral Kanada (BOC) menaikkan suku bunga sebesar tiga perempat poin persentase ke level tertinggi 14 tahun pada Rabu (7/9), seperti yang diperkirakan dan mengatakan tingkat kebijakan perlu naik lebih tinggi karena memerangi inflasi yang mengamuk.

Data ekonomi China yang lemah dan kebijakan nol-COVID yang ketat menambah kekhawatiran permintaan. Impor minyak mentah negara tersebut jatuh 9,4 persen pada Agustus dari tahun sebelumnya, data bea cukai menunjukkan.

Harga minyak mendapat beberapa dukungan dari Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan menghentikan ekspor minyak dan gas negara itu jika batasan harga diberlakukan oleh negara-negara Barat.

Investor juga melihat data stok minyak mentah AS ketika Badan Informasi Energi akan merilis laporan status minyak mingguannya pada Kamis waktu setempat. Para analis yang disurvei oleh S&P Global Commodity Insights memperkirakan persediaan minyak mentah AS menunjukkan penurunan 1,8 juta barel untuk pekan yang berakhir 2 September.

Berita Terkait

Panduan Cara Memahami Bisnis Bitcoin dan Cara Membelinya
PT STM Sukseskan MotoGP Mandalika 2025, Sediakan Helikopter untuk Transportasi dan Evakuasi Medis
RIIFO Indonesia Memperkenalkan RIIFO Design & RIIFO Care, Solusi Inovatif untuk Industri Perpipaan
Ketahui Fungsi Platform Payment di Indonesia, Mudah dan Aman untuk Transaksi Bisnis
Mega Jaya, Lebih dari Sekadar Distributor Lifting Equipment
Nikmati Liburan dengan Rental Mobil Bandung Lepas Kunci
Perkuat Struktur Pendanaan Jangka Panjang, BRI Fokus Himpun Dana Murah
BRImo Siap Layani Kebutuhan Transaksi Finansial Kapan Saja, Liburan Lebih Tenang

Berita Terkait

Sabtu, 8 November 2025 - 04:56 WIB

Panduan Cara Memahami Bisnis Bitcoin dan Cara Membelinya

Rabu, 8 Oktober 2025 - 10:55 WIB

PT STM Sukseskan MotoGP Mandalika 2025, Sediakan Helikopter untuk Transportasi dan Evakuasi Medis

Senin, 22 September 2025 - 17:21 WIB

RIIFO Indonesia Memperkenalkan RIIFO Design & RIIFO Care, Solusi Inovatif untuk Industri Perpipaan

Jumat, 19 September 2025 - 21:34 WIB

Ketahui Fungsi Platform Payment di Indonesia, Mudah dan Aman untuk Transaksi Bisnis

Jumat, 12 September 2025 - 07:09 WIB

Mega Jaya, Lebih dari Sekadar Distributor Lifting Equipment

Berita Terbaru