MEDIA EMITEN – Harga emas melonjak kembali bertengger di atas level psikologis US$ 1.850 per ounce pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Emas berbalik naik tajam rilis data pekerjaan AS yang memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga Fed melambat.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, melonjak US$ 29,10 atau 1,58% menjadi ditutup pada US$ 1.869,70 per ounce, setelah mencapai puncak sesi di US$ 1.874,80 merupakan level tertinggi sejak 17 Juni.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Jumat (6/1/2022) bahwa Amerika Serikat menambah 223.000 pekerjaan pada Desember, peningkatan terkecil dalam dua tahun tetapi lebih baik dari perkiraan peningkatan 200.000 oleh para ekonom. Tingkat pengangguran turun menjadi 3,5 persen dari 3,6 persen, sementara gaji per jam naik 0,3%.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para analis pasar berpendapat bahwa data ketenagakerjaan positif, tetapi tidak cukup kuat untuk mendorong Federal Reserve menjadi lebih agresif dalam pengetatan kebijakan moneternya.
Data ekonomi yang dirilis Jumat (6/1/2023) juga mendukung emas. Indeks jasa-jasa Institute for Supply Management (ISM) tercatat di 49,6%, turun 6,9 poin persentase dari pembacaan November 56,5%.
Sementara itu, Departemen Perdagangan AS melaporkan pesanan pabrik AS turun 1,8% pada November setelah naik 0,4% pada Oktober. Penurunan tersebut lebih besar dari perkiraan para ekonom turun 0,8%.
Dalam sebuah panel yang disponsori oleh National Association of Business Economics di New Orleans pada Jumat (6/1/2023), Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan Federal Reserve perlu menaikkan suku bunga acuan di atas 5% tahun ini, tetapi seharusnya tidak perlu menaikkannya lebih jauh.
Baca Juga:
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 55,8 sen atau 2,38%, menjadi US$ 23,982 per oounce. Platinum untuk pengiriman April bertambah US$ 34,7 atau 3,24% menjadi US$ 1.104,30 per ounce.







