MEDIA EMITEN – Harga emas berjangka melonjak 2% pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), memperpanjang kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut dan bertengger di atas level psikologis baru US$ 1.700, didorong pelemahan dolar AS di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih kecil dari Federal Reserve.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, melonjak US$ 35,5 atau 2,11% menjadi US$ 1.716,00 per ounce. Emas diperdagangkan pada kisaran US$ 1.720,40 dan terendah US$ 1.667,10.
Emas menembus US$ 1.700 per ounce, menetap di harga tertinggi sejak 6 Oktober. Mundurnya imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mendukung harga emas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,44% menjadi 109,6390, setelah tergelincir ke level terendah hampir dua minggu pada Senin, memperpanjang penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut.
Beberapa pejabat dari bank sentral AS menyuarakan dukungan untuk laju kenaikan suku bunga yang lebih lambat untuk mencegah kehancuran ekonomi, bahkan ketika inflasi AS mengamuk mendekati level tertinggi 40 tahun memberikan tekanan terhadap dolar.
Investor juga menunggu data inflasi harga konsumen AS Oktober yang akan dirilis pada Kamis. Data tersebut dapat membantu memandu keputusan Federal Reserve selanjutnya tentang kebijakan moneter.
Sementara itu, Federasi Nasional Bisnis Independen mengatakan, Indeks Optimisme Bisnis Kecil turun 0,8 poin menjadi 91,3 pada Oktober ke level terendah sejak Juli, memberikan dukungan tambahan terhadap logam kuning.
Baca Juga:
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 58,3 sen atau 2,79% menjadi US$ 21,502 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik US$ 25,10 atau 2,54% menjadi US$ 1.014,50 per ounce.







