MEDIA EMITEN – Harga emas menguat tajam pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), kembali bertengger di atas level psikologis US$ 1.800 perounce didukung merosotnya dolar AS menyusul data inflasi yang melandai.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, melonjak US$ 33,20 atau 1,85% menjadi US$ 1.825,50 per ounce, setelah mencapai puncak sesi di US$ 1.836,80, tertinggi sejak 27 Juni.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa indeks harga konsumen AS naik 7,1% tahun ke tahun pada November, lebih rendah dari perkiraan kenaikan 7,3%.
Indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS turun tajam karena data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, malah mendorong emas.
Federasi Nasional Bisnis Independen melaporkan bahwa Indeks Optimisme Bisnis Kecil naik 0,6 poin menjadi 91,9 pada November. Namun demikian, pembacaan November adalah bulan ke-11 berturut-turut di bawah rata-rata 49 tahun sebesar 98.
Emas telah naik sekitar US$ 200 dari level rendah US$ 1.600 yang dicapai pada awal Oktober.
Rebound emas didorong jatuhnya indeks dolar, yang telah kehilangan hampir 8% nilainya sejak Oktober. Pada Selasa, indeks, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, jatuh 1,4%, terbesar dalam sehari sejak 11 November.
Investor sekarang sedang menunggu pengumuman pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve pada Rabu waktu setempat.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 58,7 sen atau 2,51% menjadi US$ 23,99 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari melambungUS$ 30,90 atau 3,07% menjadi US$ 1.038,90 per ounce.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT







