MEDIA EMITEN – Harga emas melonjak pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), menembus level psikologis US$ 1.650 dipicu anjloknya dolar AS karena pelaku pasar mencerna laporan ketenagakerjaan AS Oktober yang melukiskan gambaran beragam.
Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, melonjak US$ 45,70 atau 2,8% menjadi US$ 1.676,60 dolar AS per ounce, merupakan persentase kenaikan harian terbesar sejak 2 April 2020 dan naik 1,9% untuk minggu ini.
Dolar jatuh pada Jumat setelah laporan penggajian nonpertanian (NFP) AS untuk Oktober menunjukkan ekonomi terbesar dunia itu menciptakan lebih banyak pekerjaan baru dari yang diperkirakan, tetapi juga menunjukkan tanda-tanda perlambatan dengan tingkat pengangguran yang lebih tinggi dan inflasi upah yang lebih rendah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Indeks dolar, yang mengukuri greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, anjlok 1,9% menjadi 110,77, di jalur persentase kerugian satu hari terbesar sejak November 2015.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Jumat bahwa angka penggajian nonpertanian AS melonjak 261.000 pada Oktober, melebihi perkiraan. Dolar AS mundur karena data pekerjaan yang positif, sehingga mendorong harga emas lebih tinggi.
Namun demikian, bias untuk harga emas masih ke sisi negatifnya, menurut analis pasar, karena Federal Reserve akan terus menaikkan suku bunga meskipun dalam kecepatan yang lebih lambat.
Lonjakan harga emas pada Jumat (4/11/2022) memang cukup tak terduga bahkan Pengamat Sunil Kumar Dixit dari SKCharting.com menggumamkan “manipulasi.”
Baca Juga:
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
“Angka pekerjaan tidak membenarkan apa yang terjadi pada dolar dan emas,” kata Dixit, yang memproyeksikan bahwa indeks dolar seharusnya berada di sekitar 114 dan menempatkan emas mungkin di bawah level terendah lima minggu sesi sebelumnya.







