MEDIA EMITEN – Harga emas kembali tertekan pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena dolar AS yang lebih kuat. Reli dolar AS berlanjut seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,35% menjadi 110,2140. Dolar AS menuju level tertinggi sekitar 20 tahun.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange turun US$ 9,70 atau 0,56% menjadi US$ 1.712,90 per ounce. Bursa Comex tutup pada Senin (5/9/2022) untuk libur Hari Buruh AS.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kenaikan suku bunga telah sangat membebani harga emas tahun ini, karena para pedagang mencari hasil yang lebih baik dari dolar dan obligasi pemerintah. The Fed juga secara luas diperkirakan akan mempertahankan laju kenaikan suku bunga bulan ini.
Pasar juga menunggu keputusan suku bunga dari bank sentral Kanada dan Bank Sentral Eropa.
Sementara itu, data ekonomi yang dirilis Selasa (6/9/2022) tampak beragam. Institute for Supply Management (ISM) melaporkan indeks manajer pembelian (PMI) jasa-jasa AS tercatat di 56,9% pada Agustus, naik 0,2 poin persentase dari 56,7% pada Juli.
PMI jasa-jasa AS dari Global S&P turun menjadi 43,7 pada Agustus dari 47,3 pada Juli, di bawah pembacaan awal 44,1 dan level terendah sejak Mei 2020.
Baca Juga:
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 2,7 sen atau 0,15% menjadi US$ 17,908 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober naik US$ 15,6 atau 1,91% menjadi US$ 833,90 per ounce.







