MEDIA EMITEN – Harga emas jatuh pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), menghentikan kenaikan selama tiga hari berturut-turut, menyusul aksi ambil untung.
Sentimen negatif emas adalah dolar AS berbalik menguat setelah merosot ke level terendah lebih dari satu setengah bulan minggu ini di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih kecil dari Federal Reserve (Fed).
Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Desember di Divisi Comex New York Exchange, jatuh US$ 2,30 atau 0,13% menjadi 1.713,70 per ounce, setelah diperdagangkan mencapai level tertinggi sesi di US$ 1.725,80 dan terendah US$ 1.706,10 per ounce.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dolar AS terapresiasi secara nyata pada perdagangan Rabu (9/11/2022) karena sentimen risk-off (penghindaran risiko) kembali ke pasar, mendorong permintaan untuk mata uang safe-haven dolar. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,83 persen menjadi 110,5490.
Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin mengatakan pada Rabu bahwa perjuangan Federal Reserve untuk menurunkan inflasi “dapat mengarah pada kecenderungan untuk menurun” karena kenaikan suku bunga bank sentral “ditantang” oleh tabungan konsumen yang masih tinggi, pasar tenaga kerja yang masih ketat dan masalah pasokan yang berkelanjutan.
Investor sedang menunggu data indeks harga konsumen AS Oktober yang akan dirilis pada Kamis waktu setempat. Angka tersebut secara luas diperkirakan menunjukkan inflasi tetap tinggi pada Oktober, yang dapat melihat posisi Fed untuk kenaikan suku bunga yang lebih besar.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 17,5 sen atau 0,81% menjadi US$ 21,327 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun US$ 17,20 atau 1,7% menjadi US$ 997,30 per ounce.







