MEDIA EMITEN – Emas anjlok pada perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) karena kekhawatiran Federal Reserve bakal lebih agresif setelah data inflasi Juni kian memanas mendorong dolar lebih kuat.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange, anjlok US$ 29,70 atau 1,71% menjadi 1.705,80 per ounce, setelah sempat menembus level support US$ 1.700 pada terendah sesi di US$ 1.695,05, menandai titik terendah sejak 31 Maret 2020.
Di sisi lain, indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,53% menjadi US$ 108,5420.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dolar juga naik ke level tertinggi terhadap yen Jepang sejak 1998 pada Kamis 14 Juli 2022, mendekati 140 yen karena bank sentral Jepang menganut kebijakan moneter longgar.
Data ekonomi Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa indeks harga produsen AS pada Juni naik 1,1% dari bulan ke bulan dan 11,3% dari tahun ke tahun (YoY), kenaikan terbesar sejak rekor lompatan 11,6% pada Maret 2022.
Departemen Tenaga Kerja AS lebih lanjut melaporkan bahwa klaim pengangguran awal AS naik 9.000 menjadi 244.000 yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 9 Juli, tertinggi sejak pertengahan November 2021.
Palung emas terbaru datang karena pasar menekankan apakah Federal Reserve akan memilih rekor kenaikan pada keputusan 27 Juli mendatang tentang suku bunga untuk mengekang tekanan harga AS, atau terus memprioritaskan pertumbuhan di atas inflasi.
Baca Juga:
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September turun 96,9 sen atau 5,05% menjadi US$ 18,225 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober turun US$ 20,5 atau 2,45% menjadi US$ 817,30 per ounce.







