MEDIA EMITEN – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatatkan surplus sebesar Rp 107,4 triliun per Agustus 2022 atau setara 0,58% dari produk domestik bruto (PDB).
Dengan adanya surplus, realisasi pembiayaan anggaran pun menyusut 46% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) dari Rp 531 triliun menjadi Rp 286,8 triliun.
“Dengan surplus ini dan penerbitan utang yang jauh lebih rendah, menjadikan strategi APBN kita sangat sesuai dengan tantangan yang berasal biaya dana yang tinggi, guncangan sektor keuangan, maupun tren kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS,” ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Jakarta, Senin 26 September 2022.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan, surplus APBN berasal dari realisasi pendapatan negara yang lebih tinggi dari belanja negara. Pendapatan negara per bulan lalu tercatat Rp 1.764,4 triliun atau naik 49,85 (yoy) dari Rp 1.177,8 triliun pada Agustus 2021.
Pendapatan negara tersebut antara lain berasal dari penerimaan perpajakan yang senilai Rp1.378 triliun atau meningkat 53,2% (yoy) dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp386 triliun, naik 38,9% (yoy).
Adapun penerimaan perpajakan meliputi penerimaan pajak sebesar Rp 1.171,8 triliun atau tumbuh 58,1% (yoy) serta kepabeanan dan cukai Rp 206,2 triliun yang meningkat 30,5% (yoy).
Sri Mulyani menyebutkan realisasi belanja negara per akhir Agustus 2022 mencapai Rp 1.657 triliun atau tumbuh 6,2% (yoy) dari akhir Agustus 2021 yang senilai Rp1.560,8 triliun.
Baca Juga:
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
Belanja negara terdiri atas belanja pemerintah pusat sebanyak Rp1.178,1 triliun atau naik 8,3% (yoy) dan transfer ke daerah Rp 478,9 triliun atau meningkat 1,3% (yoy).
“Kami akan terus menjaga APBN, termasuk pembayaran subsidi dan kompensasi yang diperkirakan akan melonjak tinggi pada triwulan III dan triwulan IV tahun 2022, yang akan menggunakan penerimaan negara kita yang sangat baik,” tuturnya.
Dengan seluruh realisasi tersebut, Bendahara Negara ini menuturkan keseimbangan primer mencatat surplus sebesar Rp342,1 triliun dan terdapat sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA) sebesar Rp394,2 triliun.







