MEDIA EMITEN – Harga minyak naik lebih dari 2% pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) setelah otoritas kesehatan di Tiongkok melonggarkan pembatasan Covid-19. Ini diharapkan akan meningkatkan permintaan negara importir minyak mentah utama dunia.
Minyak mentah berjangka Brent ditutup naik US$ 2,32 atau naik 1,1% menjadi US$ 95,99 per barel. Sedangkan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik US$ 2,49 atau 2,9% menjadi US$ 88,96 per barel.
Pemerintah China dikabarkan melonggarkan pembatasan termasuk mempersingkat waktu karantina untuk kontak dekat kasus dan pelancong yang masuk selama dua hari, serta menghilangkan hukuman pada maskapai penerbangan karena membawa penumpang yang terinfeksi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kontrak minyak acuan turun selama seminggu karena meningkatnya persediaan minyak AS.
Harga minyak juga mendapat katalis dari penurunan dolar AS yang membuat komoditas lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang lain.
Kenaikan harga juga dipengaruhi inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan memperkuat harapan bahwa Federal Reserve akan memperlambat kenaikan suku bunga, meningkatkan peluang soft landing untuk ekonomi terbesar dunia.
Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan, OPEC+ akan tetap berhati-hati pada produksi minyak, mencatat bahwa anggota melihat ‘ketidakpastian” dalam ekonomi global menjelang pertemuan blok berikutnya pada bulan Desember.
Baca Juga:
Casio Luncurkan Seri MR-G yang Terinspirasi Fenomena “Brinicle” di Laut Kutub
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC+, bulan lalu sepakat untuk memangkas produksi secara tajam, dan akan bertemu lagi pada 4 Desember untuk menetapkan kebijakannya.
Kasus Covid-19 China melonjak ke level tertinggi sejak lockdown di Shanghai awal tahun ini. Baik Beijing dan Zhengzhou melaporkan rekor kasus harian.







