MEDIA EMITEN – Harga minyak melonjak sekitar 5%pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) ditopang oleh penurunan dolar AS, serta kemungkinan China melonggarkan beberapa pembatasan Covid di tengah bayang-banyak kenaikan suku bunga Fed.
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember terangkat US$ 4,44 atau sekitar 5% menjadi US$ 92,61 per barel di New York Mercantile Exchange.
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari bertambah US$ 3,9 atau 4,1% menjadi ditutup pada US$ 98,57 per barel di London ICE Futures Exchange.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk minggu ini, patokan minyak mentah AS naik 5,4%, sementara minyak mentah Brent naik 5,1%, berdasarkan kontrak bulan depan.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, jatuh 1,81% menjadi 110,87 pada akhir perdagangan Jumat, mendorong harga minyak lebih tinggi. Secara historis, harga minyak berbanding terbalik dengan harga dolar AS.
Pasar minyak juga mendapat dukungan dari ekspektasi pemulihan permintaan yang solid di China.
Tiongkok berpegang teguh pada pembatasan Covid-19 yang ketat setelah kasus naik pada Kamis ke level tertinggi sejak Agustus, tetapi seorang mantan pejabat pengendalian penyakit Tiongkok mengatakan perubahan substansial pada kebijakan Covid-19 negara itu akan segera dilakukan.
Baca Juga:
Casio Luncurkan Seri MR-G yang Terinspirasi Fenomena “Brinicle” di Laut Kutub
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
Pasar saham Tiongkok telah didukung minggu ini oleh desas-desus tentang berakhirnya penguncian yang ketat meskipun tidak ada perubahan yang diumumkan secara resmi.
Sementara pasokan diperkirakan akan tetap ketat karena rencana embargo Uni Eropa terhadap minyak Rusia dan penurunan stok minyak mentah AS.
Sedikit pelemahan dolar, larangan penjualan minyak Rusia yang akan datang tentu mendukung ketika fokus bergeser dari kekhawatiran resesi ke masalah pasokan,” kata analis PVM Oil Associates Tamas Varga seperti dikutip oleh Reuters.
Namun sinyal tentang besarnya kenaikan suku bunga AS menyebabkan minyak mengurangi beberapa keuntungan.
Baca Juga:
Presiden Federal Reserve (Fed) Richmond, Thomas Barkin pada Jumat mengatakan dia siap untuk bertindak ‘lebih sengaja’ dengan mempertimbangkan laju kenaikan suku bunga AS di waktu mendatang, tetapi mengatakan suku bunga dapat terus naik lebih lama dan ke titik akhir yang lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.








