MEDIA EMITEN – Harga minyak merosot untuk hari ketiga berturut-turut pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global untuk 2022 dan 2023.
Selain itu, penguatan dolar AS dengan ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh bank-bank sentral utama menjadi sentimen negatif bagi pasar minyak.
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun US$ 2,08 dolar AS atau 2,3% menjadi US$ 87,27 per barel di New York Mercantile Exchange.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember merosot US$ 1,84 atau 2% menjadi ditutup pada US$ 92,45 per barel di London ICE Futures Exchange.
Dalam laporan bulanan yang dirilis pada Rabu, OPEC memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global, mengutip prospek ekonomi dunia yang semakin tidak pasti, kebangkitan langkah-langkah penahanan COVID-19 China dan inflasi yang tinggi.
OPEC memperkirakan permintaan minyak tumbuh sebesar 2,64 juta barel per hari tahun ini, turun 460.000 barel per hari dari proyeksi September, laporan itu menunjukkan. Pertumbuhan tahun 2023 juga direvisi turun.
“Ekonomi dunia telah memasuki masa ketidakpastian yang meningkat dan tantangan yang meningkat,” kata OPEC dalam laporan bulanannya.
Baca Juga:
Casio Luncurkan Seri MR-G yang Terinspirasi Fenomena “Brinicle” di Laut Kutub
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Sinergi Unggulan: Dreame Gandeng Cristiano Ronaldo sebagai Global Ambassador
Sebelumnya Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan global untuk 2023 dan memperingatkan peningkatan risiko resesi global.
Pasar minyak juga berada di bawah tekanan dari dolar yang menguat terhadap mata uang berimbal hasil rendah seperti yen. Komitmen Federal Reserve (Fed) untuk terus menaikkan suku bunga untuk membendung inflasi yang tinggi telah mendorong imbal hasil lebih tinggi, membuat mata uang AS lebih menarik bagi investor asing.
Pedagang menunggu data stok bahan bakar AS karena Badan Informasi Energi AS akan merilis laporan status minyak mingguan pada Kamis waktu setempat. Analis yang disurvei oleh S&P Global Commodity Insights memperkirakan pasokan minyak mentah AS akan menunjukkan kenaikan 2,2 juta barel selama pekan yang berakhir 7 Oktober.
Baca Juga:







