MEDIA EMITEN – Harga minyak merosot pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena pasar khawatir prospek permintaan yang memburuk seiring potensi terjadinya resesi global.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November merosot 53 sen atau 0,6% menjadi US$ 87,96 per barel di London ICE Futures Exchange. Kontrak Desember yang lebih aktif jatuh US$ 2,07 menjadi US$ 85,11 per barel.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November terpangkas US$ 1,74 atau 2,1% menjadi US$ 79,49 per barel di New York Mercantile Exchange.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Brent dan WTI masing-masing menguat 2% dan 1% pada basis mingguan, menandai kenaikan mingguan pertama sejak Agustus dan mengikuti posisi terendah sembilan bulan yang dicapai minggu ini.
Untuk September, patokan minyak mentah AS turun 11% dan minyak mentah Brent anjlok 8,8% , menurut Dow Jones Market Data.
Harga Brent dan WTI menyelesaikan kuartal ketiga dengan masing-masing turun sebesar 23% dan 25%.
“Peningkatan kekhawatiran tentang stabilitas keuangan di Inggris … merusak prospek permintaan sekali lagi,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.
Baca Juga:
Casio Luncurkan Seri MR-G yang Terinspirasi Fenomena “Brinicle” di Laut Kutub
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Penurunan harga terjadi karena para pelaku pasar minyak semakin takut bahwa pengetatan moneter yang agresif oleh bank-bank sentral dapat meningkatkan risiko resesi, sehingga mengganggu permintaan bahan bakar.
“Perubahan harga telah menjadi norma karena para pelaku pasar mengatasi kekhawatiran atas ekonomi global dan prospek pengetatan pasokan minyak,” kata Stephen Brennock dari pialang minyak PVM.
Pasar juga menunggu keputusan penting oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC+, karena kelompok tersebut akan bertemu Rabu depan (5/10/2022) dan membahas strategi produksi di masa depan.







