MEDIA EMITEN – Harga minyak menguat pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), setelah mencapai level terendah sejak Januari di sesi sebelumnya. Pembatasan pasokan di Teluk Meksiko AS menjelang Badai Ian dan terhentinya reli dolar AS mendukung penguatan minyak.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November naik US$ 2,21 atau 2,6% menjadi US$ 86,27 per barel di London ICE Futures Exchange. Brent jatuh 2,4% menjadi US$ 83,65, terendah sejak Januari di sesi sebelumnya.
Harga mendapat dukungan dari pembatasan pasokan di Teluk Meksiko AS karena Badai Ian memaksa perusahaan-perusahaan minyak di wilayah tersebut untuk mengevakuasi personel dan menutup kegiatan produksi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan AS melaporkan Selasa (27/9/2022) bahwa sekitar 11% produksi minyak dan 8,56 persen produksi gas alam di Teluk telah ditutup.
Pedagang juga menunggu data stok bahan bakar AS karena Badan Informasi Energi akan merilis laporan status minyak mingguannya pada Rabu. Para analis yang disurvei oleh S&P Global Commodity Insights memperkirakan pasokan minyak mentah komersial AS menunjukkan kenaikan 400.000 barel untuk pekan yang berakhir 23 September.
Harga minyak juga mendapat dukungan dari ekspektasi para analis kemungkinan pengurangan pasokan dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+), yang akan bertemu untuk menetapkan kebijakan pada 5 Oktober.
Dolar AS yang turun dari level tertinggi 20 tahun, juga membantu mendukung minyak. Dolar yang kuat membuat minyak mentah lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.







