MEDIA EMITEN – Harga minyak anjlok sekitar 9 % pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), mencatat penurunan harian terbesar sejak Maret di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi global dan penguncian di China serta penguatan greenback dapat memangkas permintaan.
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus merosot US$ 8,93 atau 8,2% menjadi US$ 99,50 per barel. Tidak ada penyelesaian untuk WTI pada Senin (4/7/2022) karena hari libur AS.
Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September terperosok US$ 10,73 dolar AS atau 9,5% menjadi US$ 102,77 per barel.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedua harga acuan minyak itu kemudian rebound pada Rabu 6 Juli 2022 jam perdagangan Asia dengan WTI naik 1,9% ke level US$ 101.39 per barel, dan Bren naik 2,17% ke level US$ 105 per barel.
Harga minyak berjangka tenggelam bersama dengan gas alam, bensin dan ekuitas, yang sering menjadi indikator permintaan minyak mentah.
Sementara itu pengujian massal COVID-19 di China menebar kekhawatiran akan potensi penguncian yang mengancam akan memperdalam pengurangan konsumsi minyak.
Shanghai mengatakan akan memulai putaran baru pengujian massal terhadap 25 juta penduduknya selama periode tiga hari, mengutip upaya untuk melacak infeksi yang terkait dengan wabah di sebuah bar karaoke.
Baca Juga:
Casio Luncurkan Seri MR-G yang Terinspirasi Fenomena “Brinicle” di Laut Kutub
Wafra Raih Kemenangan Tiga Kategori di Global Islamic Finance Innovation Awards 2026
Kekhawatiran bahwa permintaan musim mengemudi musim panas AS akan turun setelah liburan 4 Juli juga tampaknya membebani pasar, kata Kissler.
Jika resesi benar-benar melanda, dan mengurangi permintaan energi secara signifikan, lebih banyak ayunan liar ke sisi bawah bisa terjadi, kata Presiden Konsultan Lipow Oil Associates, Andy Lipow.







