MEDIA EMITEN – Harga emas melemah pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) tertekan oleh penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Juni di divisi Comex New York Exchange, turun US$ 7,4 atau 0,38% menjadi US$ 1.948,20 per ounce.
Imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun kembali pada tren naik setelah jatuh dari tertinggi tiga tahun pada Rabu (20/4/2022). Imbal hasil obligasi AS telah menguat di atas ekspektasi bahwa Federal Reserve AS akan secara agresif menaikkan suku bunga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pada Kamis 21 April 2022 waktu setempat, memberi sinyal kenaikan suku bunga lebih agresif.
“Risiko geopolitik dan tekanan inflasi saat ini menjadi dua pendorong utama pasar emas. Kenaikan suku bunga Fed yang agresif sebesar 75 basis poin dapat menjadi peredam harga jangka pendek, sementara peningkatan inflasi karena guncangan pasokan dapat mengurangi dampak negatifnya,” kata analis ANZ Research dalam sebuah catatan.
Sementara itu, data ekonomi yang dirilis pada Kamis (21/2/2022) juga mendukung emas. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim pengangguran awal AS di 184.000 dalam pekan yang berakhir 16 April, turun 2.000 dari minggu sebelumnya.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei turun 65 sen atau 2,57% menjadi US$ 24,621 per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli turun US$ 19,2 atau 1,95% menjadi US$ 967,8 per ounce.







