Apindo : Rupiah Diyakini Tidak Akan “Terjun Bebas”

- Pewarta

Kamis, 27 September 2018 - 08:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, Jakarta – Direktur Apindo Research Institute Agung Pambudi mengatakan, dunia usaha masih meyakini nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS tidak akan melemah signifikan atau “terjun bebas” di tengah gejolak ekonomi global.

“Kami menghimpun pendapat dari teman-teman eksportir dan importir, dan juga para ekonom dan konsultan. Sekarang ini kami masih meyakini bahwa suara “government” masih “in line” dengan pendapat kami, artinya bahwa Rupiah itu tidak potensial terjun bebas, masih akan sangat gradual,” ujar Agung di Jakarta, Kamis (27/9/2018).

Menurut Agung, depresiasi rupiah relatif masih terkontrol. Selain itu, pemerintah selaku pengambil kebijakan juga kompak satu suara sehingga memberikan kepercayaan kepada para pelaku usaha dan juga investor.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Dunia usaha akan panik kalau di antara ministrial level itu satu ngomongnya A satu ngomong B. Jadi kita cukup “convince” dari Kemenkeu, Kemendag, dan lainnya, mereka masih satu. Buat dunia usaha itu masih positif,” kata Agung.

Berdasarkan kurs tengah BI, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (26/9/2018) lalu mencapai Rp14.938 per dolar AS, melemah dibandingkan hari sebelumnya Rp14.893 per dolar AS.

Kendati demikian, lanjut Agung, dalam konteks pelemahan Rupiah itu sendiri salah satu pemicunya yaitu perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Menghadapi sentimen perang dagang tersebut, pemerintah Indonesia harus sangat berhati-hati dalam membuat kebijakan yang tepat.

“Kita harus tetap jaga benar-benar supaya kita tidak masuk di tengah-tengah, kegencet gajah-gajah raksasa yang sedang bertarung. Kalau kita ikut-ikutan ambil kebijakan yang keliru, kita bisa kegencet,” ujar Agung.

Agung menjelaskan, kebijakan yang keliru adalah apabila pemerintah Indonesia ikut-ikutan terjebak balas-membalas tarif impor seperti AS dan China. Menurutnya, Indonesia juga belum punya kapasitas untuk bertindak melakukan hal serupa.

“Ada beberapa unsur yang berpikir untuk itu, protektif dan sebagainya. Tidak mungkin lah, kita tidak dalam size ekonomi yang mungkin untuk itu. Di sisi lain juga, bisnis kita dengan AS, untuk kondisi seperti ini tidak amat signifikan walau ada cukup besar. Makanya implikasinya juga tidak sangat dalam kecuali kita ketergantungannya tinggi,” ujar Agung.

Di sisi lain, Agung juga menilai, dunia usaha harusnya juga mulai secara serius menggarap pasar-pasar non tradisional seperti Afrika dan Amerika Latin.

Menurutnya, sudah ada pelaku usaha yang mulai melakukan hal tersebut, namun jumlahnya relatif masih sedikit.

“Sebetulnya pasar nontradisional itu potensinya cukup besar, supaya terdiversifikasi pasarnya. Sayangnya kebanyakan dunia usaha memang masih sedikit “reluctant” untuk membuka pasar baru, itu risikonya gede. Grup-grup besar sudah pada mulai jalankan. Kita harus beranikan diri untuk memulai, tapi memang tidak segampang itu juga,” kata Agung. (cit)

Berita Terkait

Resmi Dibuka, Astra Auto Fest 2025 Semarak Beragam Promo dari Grup Astra
Pasar Modal Indonesia Waspada, CSA Index September 2025 Terkoreksi
Strategi BUMI Kuasai Wolfram, Tambang Emas Jumbo di Queensland Australia
Analisis: Keterlambatan Laporan Keuangan Picu Asimetri Informasi di Pasar
Strategi SMMA Konversi Utang Jadi Saham, Langkah Cerdas Atasi Beban Finansial
CSA Index RI Agustus Tertinggi Sejak Awal Tahun
Strategi Baru Remala Abadi: Transaksi Saham Komisaris Tingkatkan Kontrol Bisnis
Pasca Keluar dari LQ45, SIDO Pindah Fokus dari Domestik ke Internasional