Wall Street Rontok, Dow Ambles 486 Poin

- Pewarta

Sabtu, 24 September 2022 - 09:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wall Street Rontok, Dow Ambles 486 Poin

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham Wall Street, AS/Dok

MEDIA EMITEN – Saham-saham di Wall Street rontok pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena aksi jual besar-besaran berlanjut di tengah kekhawatiran resesi.

Indeks Dow Jones Industrial Average ambles 486,27 poin atau 1,62% menjadi 29.590,41 poin. Indeks S&P 500 tergelincir 64,76 poin atau 1,72% menjadi 3.693,23 poin. Nasdaq Composite jatuh 198,88 poin atau 1,80 persen, menjadi ditutup di 10.867,93 poin.

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor energi dan konsumer non-primer masing-masing terpuruk 6,75% dan 2,29%, memimpin kerugian.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketiga indeks mengalami penurunan mingguan yang tajam. Indeks Nasdaq anjlok 5,03% – minggu kedua berturut-turut turun lebih dari 5% – dengan S&P 500 jatuh 4,77% dan Dow 4% lebih rendah.

Pasar bereaksi dalam mode risk-off (penghindaran risiko) karena meningkatnya kekhawatiran bahwa pengetatan kebijakan agresif Federal Reserve akan menyebabkan resesi.

The Fed pada Rabu (21/9) menyampaikan kenaikan suku bunga 75 basis poin ketiga berturut-turut tahun ini, membawa suku bunga dana federal ke kisaran baru 3% hingga 3,25%, dalam upaya untuk mengendalikan inflasi.

Besarnya kenaikan suku bunga sudah diperkirakan secara luas, tetapi laju pengetatan di masa depan yang tersirat oleh proyeksi ekonomi terbaru Fed lebih agresif daripada yang diantisipasi.

Komentar dari Ketua Fed Jerome Powell juga tetap hawkish, menekankan bahwa bank sentral fokus untuk mencapai stabilitas harga. The Fed memperkirakan bahwa ini akan membutuhkan periode berkelanjutan dari kebijakan moneter ketat, pertumbuhan ekonomi lemah dan pengangguran yang lebih tinggi.

“Pesan The Fed keras dan jelas: Menaklukkan inflasi terbukti jauh lebih sulit dari yang diharapkan, dan mengejar tujuan itu kemungkinan akan datang dengan beberapa kerusakan tambahan,” analis di J.P. Morgan mengatakan.

Sejumlah bank sentral, termasuk di Amerika Serikat, Inggris, Swedia, Swiss, Norwegia dan Indonesia, memberikan kenaikan suku bunga minggu ini untuk memerangi inflasi, tetapi sinyal The Fed yang memperkirakan suku bunga AS yang tinggi akan bertahan hingga 2023 yang membuat pasar kesulitan.

“Ini menjadi skenario dasar bahwa ekonomi ini akan mengalami hard landing, dan itu adalah lingkungan yang mengerikan bagi saham AS,” kata Ed Moya, analis pasar senior di OANDA.


Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru