Wall Street Lanjutkan Reli, Ekonomi AS Kontraksi

- Pewarta

Jumat, 29 Juli 2022 - 08:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wall Street Lanjutkan Reli, Ekonomi AS Kontraksi

Foto ilustrasi: Bursa saham Wall Street, AS/Dok

MEDIA EMITEN -Wall Street lanjutkan reli hingga akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) menyusul laporan Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang suram memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (Fed) mungkin tidak perlu menaikkan suku bunga secara agresif lagi.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 332,04 poin atau 1,03% menjadi 32.529,63 poin. Indeks S&P 500 bertambah 48,82 poin atau 1,21% menjadi 4.072,43 poin. Nasdaq Composite menguat 130,17 poin atau 1,08% menjadi 12.162,59 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor real estat dan utilitas masing-masing melonjak 3,7% dan 3,53%, melampaui sektor lainnya. Sementara itu, sektor jasa-jasa komunikasi tergelincir 0,73%, satu-satunya kelompok yang menurun.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pasar merespons PDB AS yang kontraksi 0,9% dalam periode tersebut setelah kuartal sebelumnya kontraksi 1,6%, Departemen Perdagangan melaporkan semalam.

Berita itu meningkatkan kemungkinan bahwa ekonomi berada di puncak resesi, dan beberapa investor mengatakan itu mungkin menghalangi The Fed untuk terus menaikkan suku bunga secara agresif ketika memerangi inflasi yang tinggi.

Imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun mundur mengikuti data ekonomi. Penurunan imbal hasil mungkin menunjukkan “bahwa pasar berpikir The Fed harus berputar dan menurunkan suku bunga di beberapa titik, mungkin dalam periode 12 bulan ke depan,” kata Ahli Strategi Investasi Senior Edward Jones, Mona Mahajan.

Investor juga menilai jalur kenaikan suku bunga The Fed, Bank sentral AS itu pada Rabu (27/7/2022) menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin, yang kedua berturut-turut sebesar itu, dalam upaya untuk menjinakkan inflasi yang berjalan pada level tertinggi empat dekade.

Investor prihatin bahwa inflasi dan kenaikan suku bunga Fed yang agresif pada titik tertentu dapat mengarahkan ekonomi ke dalam resesi.

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru