Wall Street Anjlok 1% Jelang FOMC

- Pewarta

Rabu, 3 Mei 2023 - 08:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham Wall Street, AS/Dok

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham Wall Street, AS/Dok

 MEDIA EMITEN – Tiga indeks utama saham di Wall Street, AS, anjlok lebih dari 1% pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Investor berhati-hati menjelang pertmuan Federal Reserve (FOMC) dan juga khawatir terkait krisis perbankan di AS.

Dow Jones jatuh 1,08% ke 33.684,53. S&P 500 yang mencakup berbagai sektor anjlok 1,16% ke 4.119,58 dan Nasdaq Composite yang penuh dengan perusahaan teknologi turun 1,08% ke 12.080,51.

Saham PacWest Bancorp turun sekitar 26,5%, mengurangi kerugian sebelumnya. Western Alliance Bank turun sekitar 20,4% dan New York Community Bancorp turun sekitar 7%. SPDR S&P Regional Banking ETF, yang melacak sejumlah bank menengah, turun sekitar 7%.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harga saham bank-bank besar terkoreksi tajam, seperti Wells Fargo turun 4,7%, Citigroup turun 3,1% dan Bank of America turun 3,9%.

Saham JP Morgan Chase turun 1,7%, setelah mencatatkan kenaikan 1% pada hari sebelumnya, menyusul pemblian ebagian besar aset First Republic Bank.

Meskipun CEO Jamie Dimon menjamin pemegang saham bahwa krisis sektor perbankan telah terkendali, investor tetap terlihat cemas.

Investor berhati-hati menjelang pengumuman kenaikan suku bunga Fed yang dijadwalkan pada hari Rabu waktu AS, dan ketakutan tentang batas utang Pemerintah AS, itu menciptakan badai kekhawatiran di Wall Street.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen pada Senin (1/5/2023) memperingatkan bahwa AS mungkin kehabisan uang untuk membayar utang pada tanggal 1 Juni, lebih awal dari perkiraan pemerintah dan Wall Street.

Berdasarkan data bulanan yang dirilis pada hari Selasa oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, lapangan kerja yang tersedia mencapai 9,59 juta pada bulan Maret. Angka tersebut turun dari yang sebelumnya direvisi ke atas yaitu 9,974 juta yang dilaporkan pada bulan Februari dan mewakili bulan ketiga berturut-turut penurunan jumlah lapangan kerja yang tersedia.

Menurut perkiraan konsensus pada Refinitiv, para ekonom mengharapkan adanya 9,775 juta lowongan kerja yang tersedia.

 

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru