Sektor Energi Tekan Wall Street

- Pewarta

Kamis, 23 Juni 2022 - 08:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sektor Energi Tekan Wall Street

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham Wall Street, AS/Dok

MEDIA EMITEN – Tiga indeks utama saham di Wall Street turun pada penutupan Rabu (Kamis pagi WIB), setelah perdagangan bergejolak karena saham energi tertekan. Investor mencerna pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell tentang tujuan bank sentral untuk menurunkan inflasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 47,12 poin atau 0,15%, menjadi 30.483,13 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 4,9 poin atau 0,13% menjadi 3.759,89 poin. Nasdaq Composite ditutup melemah 16,22 poin atau 0,15%, menjadi 11.053,08 poin.

Sektor energi, yang telah menjadi pemain yang kuat tahun ini, anjlok 4,2% karena harga minyak turun. Penurunan saham Exxon Mobil, Chevron dan Conocophillips adalah hambatan individu terbesar pada S&P 500.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penurunan 0,4% di sektor teknologi kelas berat juga membebani pasar. Sementara itu, sektor real estat, perawatan kesehatan dan utilitas adalah sektor S&P 500 dengan keuntungan tertinggi. Real estat menguat 1,6%, perawatan kesehatan naik 1,4% dan utilitas bertambah 1%.

Setelah dibuka lebih rendah, indeks-indeks utama AS menghapus kerugian menyusul kesaksian Powell di hadapan komite Senat, tetapi kemudian memudar hingga penutupan.

Powell mengatakan The Fed “berkomitmen kuat” untuk menurunkan inflasi yang berjalan pada level tertinggi 40 tahun sementara pembuat kebijakan tidak berusaha menyebabkan resesi dalam prosesnya.

Investor mencoba menilai seberapa jauh saham bisa jatuh karena mereka mempertimbangkan risiko terhadap ekonomi dengan kenaikan suku bunga Fed untuk meredam lonjakan inflasi.

S&P 500 awal bulan ini turun lebih dari 20 persen dari tertinggi sepanjang masa Januari, mengkonfirmasi definisi umum dari pasar bearish, dengan indeks acuan pekan lalu mencatat penurunan persentase mingguan terbesar sejak Maret 2020.

“Pasar terus bergejolak,” kata King Lip, kepala strategi di Baker Avenue Asset Management di San Francisco. “Tentu saja kita belum keluar dari masalah… Kekhawatiran masih ada.”

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru