OPEC+ Perthankan Kebijakan Pengurangan Produksi

- Pewarta

Senin, 5 Desember 2022 - 08:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+)/Dok.

Foto ilustrasi: Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+)/Dok.

MEDIA EMITEN – Kelompok eksportir minyak dan sekutunya (OPEC+) setuju untuk mempertahankan kebijakan target pengurangan roduksi minyak mereka. Sebab, pasar minyak dinilai tengah berjuang dari dampak perlambatan ekonomi China dan pembatasan harga pada minyak Rusia oleh Uni Eropa .

OPEC + pada pertemuan Minggu waktu setempat setuju untuk mempertahankan kebijakan yang ada. Ini diambil dua hari setelah negara-negara Kelompok Tujuh (G7) menyetujui batasan harga minyak Rusia sebesar US$ 60 per barel.

Para menteri utamanya akan bertemu pada 1 Februari 2023 untuk komite pemantau, sementara pertemuan penuh dijadwalkan pada 3-4 Juni 2023.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada Jumat (1/12/2022), negara-negara G7 dan Australia menyetujui batas harga US$ 60 per barel untuk minyak mentah lintas laut Rusia sebagai langkah untuk menghilangkan pendapatan Presiden Vladimir Putin sambil menjaga agar minyak Rusia tetap mengalir ke pasar global.

Moskow mengatakan tidak akan menjual minyaknya di bawah batas dan sedang menganalisis bagaimana menanggapinya.

Banyak analis dan menteri OPEC mengatakan batas harga membingungkan dan mungkin tidak efisien karena Moskow telah menjual sebagian besar minyaknya ke negara-negara seperti China dan India, yang menolak mengutuk perang di Ukraina.

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan, Rusia lebih suka memangkas produksi daripada memasok minyak di bawah batas harga dan mengatakan batas tersebut dapat mempengaruhi produsen lain.

Sumber mengatakan kepada Reuters bahwa beberapa anggota OPEC+ telah menyatakan frustrasi dengan batasan tersebut dengan mengatakan tindakan anti-pasar pada akhirnya dapat digunakan oleh Barat terhadap produsen mana pun.

Amerika Serikat mengatakan tindakan itu tidak ditujukan untuk OPEC.

JP Morgan mengatakan pada Jumat (1/12/2022), OPEC+ dapat meninjau produksi pada tahun depan berdasarkan data baru tentang tren permintaan China dan kepatuhan konsumen terhadap batasan harga pada produksi minyak mentah Rusia dan aliran tanker.

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru

Pers Rilis

Seminar Ekonomi Karbon Digelar di PHBS, Shenzhen

Rabu, 29 Jul 2026 - 04:08 WIB