Jelang FOC, Wall Street Ditutup Menguat

- Pewarta

Rabu, 22 Maret 2023 - 10:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jelang FOC, Wall Street Ditutup Menguat

Foto ilustras: Bursa saham Wall Street, AS/Dok

MEDIA EMITEN – Tiga indeks utama saham di Bursa AS Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Pasar mencermati pertemuan Federal Reseve (FOMC) pada Rabu waktu AS.

Dow Jones Industrial Average naik 316,02 poin, atau 0,98%, menjadi 32.560,60. Sementara S&P 500 di Wall Street melonjak 1,30% menjadi 4.002,87-penutupan pertama di atas ambang batas 4.000 sejak 6 Maret. Nasdaq Composite menguat 1,58% menjadi 11.860,11.

Saham perbankan regional menghijau dipimpin First Republic Bank yang meroket hampir 30%, setelah sehari sebelumnya kehilangan 47%. ETF Perbankan Regional SPDR (KRE) naik hampir 6%.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para trader makin optimismis pada prospek sektor keuangan menyusul jaminan Menteri Keuangan (Menkeu) AS Janet Yellen untuk melindungi dari krisis. Janet Yellen mengatakan bahwa pemerintah siap memberikan jaminan lebih lanjut deposito jika krisis perbankan memburuk.

Wall Street saat ini memantau pengumuman Federal Reserve terkait pengetatan kebijakan moneter Rabu sore. Investor mengharapkan pengetatan the Fed lebih lambat menyusul krisis perbankan. Trader saat ini memproyeksi peluang kenaikan suku bunga seperempat poin 86%, menurut alat FedWatch CME Group.

“Jika (The Fed]) menghentikan kenaikan suku bunga, itu sama saja dengan mengakui bahwa mereka mengetahui sesuatu yang mungkin tidak diketahui pasar. Saya pikir itu akan menjadi ide yang menghancurkan bagi mereka,” kata Kepala Strategi ETF di Allianz Investment Management Johan Grahn dikutip CNBC International.

“Tidak pernah ada argumen bagi The Fed untuk mundur dari 25 (basis poin).”

Dia menambahkan bahwa volatilitas pasar setelah kegagalan Silicon Valley Bank (SVB) dan kehancuran Credit Suisse adalah reaksi spontan yang sangat alami bagi investor untuk pergi ke tempat aman.

“Sepertinya proses evaluasi sudah agak tenang, jadi kita bisa mengatakan bahwa ini adalah insiden yang relatif terisolasi. Sekarang, tentu saja, ini baru retakan pertama,” kata Grahn.

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru