MEDIA EMITEN – Pertemuan ekonomi Kelompok 20 (G20) di India gagal mencapai konsensus untuk mengurangi secara bertahap penggunaan bahan bakar fosil, menyusul keberatan dari beberapa negara produsen.
Ketidaksepakatan tersebut termasuk rencana melipatgandakan kapasitas energi terbarukan pada 2030 mengakibatkan para pejabat mengeluarkan pernyataan hasil dan ‘chair summary’.
“Kami memiliki kesepakatan lengkap tentang 22 dari 29 paragraf, dan tujuh paragraf merupakan Chair summary,” ungkap Menteri Ketenagalistrikan India RK Singh, dikutip dari Reuters, Minggu 23 Juli 2023.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan empat hari mereka di Bambolim, di negara bagian Goa, India itu dihujani protese dari para ilmuwan. Mereka menilai badan internasional itu lamban dalam bertindak untuk mengekang pemanasan global. Bahkan ketika cuaca ekstrem dari Tiongkok hingga Amerika Serikat (AS) menjadi sinyal terjadinya krisis iklim yang dihadapi dunia.
Negara-negara anggota G20 bersama-sama bertanggung jawab atas lebih dari tiga perempat emisi global dan produk domestik bruto, dan upaya kumulatif kelompok untuk mendekarbonisasi sangat penting dalam perang global melawan perubahan iklim.
Penggunaan bahan bakar fosil menjadi target dalam diskusi sepanjang hari, tetapi para pejabat gagal mencapai konsensus untuk membatasi penggunaan ‘terus-menerus’ dan memperdebatkan bahasa untuk menggambarkan jalur untuk mengurangi emisi, kata dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Singh, dalam jumpa pers setelah konferensi, mengatakan beberapa negara ingin menggunakan penangkapan karbon daripada pengurangan bertahap bahan bakar fosil. Dia tidak menyebutkan nama negara.
Baca Juga:
Produsen bahan bakar fosil utama Arab Saudi, Rusia, Tiongkok, Afrika Selatan, dan Indonesia semuanya diketahui menentang tujuan tiga kali lipat kapasitas energi terbarukan dekade ini.







