Dow Anjlok 500 Poin, Tertekan Data Inflasi

- Pewarta

Sabtu, 1 Oktober 2022 - 10:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham Wall Street, AS/Dok

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham Wall Street, AS/Dok

MEDIA EMITEN – Saham-saham di Wall Street turun tajam pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena investor khawatir tentang prospek pengetatan kebijakan moneter agresif bank sentral lebih lanjut menyusul laporan inflasi yang panas lainnya.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 500,10 poin atau 1,71% menjadi 28.725,51 poin. Indeks S&P 500 tergerus 54,85 ​​poin atau 1,51% menjadi 3.585,62 poin. Nasdaq Composite jaruh 161,89 poin atau 1,51% menjadi 10.575,62.

Ketiga indeks utama membukukan penutupan terendah sejak 2020. Indeks S&P dan Dow mencatat penurunan mingguan ketiga berturut-turut, dan ketiga indeks membukukan kerugian bulanan kedua berturut-turut. Untuk September, Dow turun 8,8%, S&P 500 jatuh 9,3%, dan Nasdaq kehilangan 10,5%.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor utilitas dan teknologi masing-masing tergelincir 1,97% dan 1,94%, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor real estat menguat 0,99%, satu-satunya kelompok yang memperoleh keuntungan.

“Ini adalah hari buruk lainnya untuk mengakhiri kuartal yang buruk di tahun yang tampak sangat buruk,” kata Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group di Omaha, Nebraska.

Menurut dia, kekhawatiran bahwa The Fed akan melakukan apa pun yang mereka bisa untuk memerangi inflasi tertinggi 40 tahun. “Investor khawatir mereka akan mendorong ekonomi ke tepi dan ke dalam resesi,” tambah Detrick.

Data yang dirilis Jumat (30/9/2022) menunjukkan ukuran utama inflasi AS datang lebih tinggi dari yang diperkirakan pada Agustus meskipun Federal Reserve berupaya untuk menurunkan harga-harga.

Departemen Perdagangan AS mengatakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti, yang tidak termasuk makanan dan energi, naik 0,6 % pada Agustus, di atas konsensus 0,5%, dan mencatat kenaikan 4,9% tahun-ke-tahun.

Inflasi PCE utama naik 0,3% untuk kenaikan 6,2% tahun-ke-tahun, juga di atas perkiraan pasar.

Komentar Fed baru-baru ini menggarisbawahi bahwa bank sentral tetap fokus pada memerangi inflasi dan tidak mau menyimpang dari pengetatan untuk melindungi pertumbuhan atau pasar.

Wakil Ketua Fed Lael Brainard pada Jumat (30/9/2022) menggarisbawahi perlunya mengatasi inflasi dan pentingnya tidak menyusut dari tugas sampai selesai.


Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru

Pers Rilis

ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”

Rabu, 29 Apr 2026 - 10:22 WIB