MEDIA EMITEN – China terus melepas obligasi AS hingga kepemilikannya sudah berada di bawah US$ 1 triliun. Hal ini menjadikan pertama kalinya sejak Mei 2010, di mana kepemilikan China di Treasury AS turun di bawah angka US$ 1 triliun.
China merupakan salah satu negara yang memiliki obligasi pemerintah AS (US Treasury) paling besar, terbesar kedua di dunia setelah Jepang. Hingga saat ini, Jepang menjadi yang terbesar sebagai pemegang Treasury AS, per Mei tercatat US$ 1,21 triliun.
Aksi China melepas Treasury sudah dimulai dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak AS mengobarkan perang dagang saat dipimpin Presiden ke-45 Donald Trump. Sejak saat itu, kepemilikan Treasury China terus mengalami penurunan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melanjutkan tren yang dimulai pada awal 2021, portofolio kepemilikan Treasury AS oleh China per Mei lalu turun menjadi US$ 980,8 miliar, menurut data Departemen Keuangan AS yang dirilis Senin seperti dikutip dari CNBC International, Selasa 19 Juli 2022.
Angka itu turun sekitar US$ 23 miliar dari bulan sebelumnya, dan hampir US$ 100 miliar atau 9% dibandingkan Mei 2021.
China makin agresif melepas kepemilikan Treasury AS di tahun ini setelah bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga dengan sangat agresif guna meredam kenaikan inflasi.
Pada semester I-2022, suku bunga dinaikkan sebanyak 3 kali dengan total 150 basis poin (bp) menjadi 1,5% – 1,75%. Ketua The Fed, Jerome Powell bahkan terang-terangan mengatakan akan menaikkan lagi sebesar 50 – 75 basis poin di bulan ini.
Baca Juga:
GTN dan AmInvestment Bank memperluas akses pasar bagi para investor Malaysia
BWH® Hotels Mengumumkan Transformasi Perusahaan, Menyatukan Portofolio Global di Bawah WorldHotels™
Bahkan, dengan inflasi yang meroket ke 9,1% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni lalu, pasar melihat The Fed berpeluang menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin (bp).
Kenaikan suku bunga yang agresif, imbal hasil (yield) Treasury jadi ikut menanjak. Pada pertengahan Juni lalu, yield Treasury tenor 10 tahun bahkan sempat menyentuh 3,5%, tertinggi sejak April 2011.
Ketika yield Treasury menanjak, artinya harga obligasi mengalami penurunan. Hal ini membuat pemegang Treasury mengalami capital loss, membuat China semakin agresif “membuang” Treasury.
Penurunan kepemilikan Treasury AS di China juga telah dikaitkan dengan upaya Beijing untuk mendiversifikasi portofolio utang luar negerinya.
Baca Juga:







