China Lepas Obligasi AS, Kepemilikannya Turun di Bawah US$ 1 T

- Pewarta

Selasa, 19 Juli 2022 - 20:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

China Lepas Obligasi AS, Kepemilikannya Turun di Bawah US$ 1 T

Foto ilustrasi: US Treasury Bond/IST

MEDIA EMITEN – China terus melepas obligasi AS hingga kepemilikannya sudah berada di bawah US$ 1 triliun. Hal ini menjadikan pertama kalinya sejak Mei 2010, di mana kepemilikan China di Treasury AS turun di bawah angka US$ 1 triliun.

China merupakan salah satu negara yang memiliki obligasi pemerintah AS (US Treasury) paling besar, terbesar kedua di dunia setelah Jepang. Hingga saat ini, Jepang menjadi yang terbesar sebagai pemegang Treasury AS, per Mei tercatat US$ 1,21 triliun.

Aksi China melepas Treasury sudah dimulai dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak AS mengobarkan perang dagang saat dipimpin Presiden ke-45 Donald Trump. Sejak saat itu, kepemilikan Treasury China terus mengalami penurunan.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melanjutkan tren yang dimulai pada awal 2021, portofolio kepemilikan Treasury AS oleh China per Mei lalu turun menjadi US$ 980,8 miliar, menurut data Departemen Keuangan AS yang dirilis Senin seperti dikutip dari CNBC International, Selasa 19 Juli 2022.

Angka itu turun sekitar US$ 23 miliar dari bulan sebelumnya, dan hampir US$ 100 miliar atau 9% dibandingkan Mei 2021.

China makin agresif melepas kepemilikan Treasury AS di tahun ini setelah bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga dengan sangat agresif guna meredam kenaikan inflasi.

Pada semester I-2022, suku bunga dinaikkan sebanyak 3 kali dengan total 150 basis poin (bp) menjadi 1,5% – 1,75%. Ketua The Fed, Jerome Powell bahkan terang-terangan mengatakan akan menaikkan lagi sebesar 50 – 75 basis poin di bulan ini.

Bahkan, dengan inflasi yang meroket ke 9,1% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni lalu, pasar melihat The Fed berpeluang menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin (bp).

Kenaikan suku bunga yang agresif, imbal hasil (yield) Treasury jadi ikut menanjak. Pada pertengahan Juni lalu, yield Treasury tenor 10 tahun bahkan sempat menyentuh 3,5%, tertinggi sejak April 2011.

Ketika yield Treasury menanjak, artinya harga obligasi mengalami penurunan. Hal ini membuat pemegang Treasury mengalami capital loss, membuat China semakin agresif “membuang” Treasury.

Penurunan kepemilikan Treasury AS di China juga telah dikaitkan dengan upaya Beijing untuk mendiversifikasi portofolio utang luar negerinya.

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru