MEDIA EMITEN – China dan Arab Saudi menekankan pentingnya stabilitas pasar minyak global dan peran dalam mencapai stabilisasi harga. Langkah ini dilakukan menyusul kunjungan tiga hari Presiden China Xi Jinping ke Arab Saudi.
“China menyambut peran Kerajaan Saudi sebagai pendukung keseimbangan dan stabilitas di pasar minyak dunia, dan sebagai pengekspor utama minyak mentah yang andal ke China,” Kata Xi, dikutip dari CNBC International, Sabtu 10 Desember 2022.
China adalah importir minyak mentah terbesar di dunia, sementara Arab Saudi adalah eksportir terbesar sumber daya alam tersebut. Saudi juga memimpin aliansi produsen OPEC+.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Xi bertemu dengan Raja Salman bin Abdul-Aziz Al Saud dan pewarisnya, Putra Mahkota dan Perdana Menteri Saudi Mohammed bin Salman (MBS). Pembicaraan sejauh ini menghasilkan penandatanganan perjanjian kemitraan strategis komprehensif dan 12 perjanjian dan nota kesepahaman dalam topik termasuk hidrogen, investasi langsung dan pembangunan ekonomi.
Kedua negara sebelumnya juga menegaskan mereka akan terus mendukung satu sama lain. Lebih jauh, mendesak juga kerja sama dengan Iran dengan Badan Energi Atom Internasional.
Xi bertemu dengan Raja Salman bin Abdul-Aziz Al Saud dan pewarisnya, Putra Mahkota dan Perdana Menteri Saudi Mohammed bin Salman (MBS). Pembicaraan sejauh ini menghasilkan penandatanganan perjanjian kemitraan strategis komprehensif dan 12 perjanjian dan nota kesepahaman dalam topik termasuk hidrogen, investasi langsung dan pembangunan ekonomi.
Xi mengundang Raja Salman untuk datang ke China. Adapun Xi tiba di Riyadh, ibu kota Arab Saudi pada 7 Desember untuk kunjungan tiga hari pada saat Beijing berusaha merevitalisasi ekonominya. Sementara Arab Saudi memelihara hubungan timur tengah setelah konflik kebijakan energi dengan Amerika Serikat (AS).
Baca Juga:
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara
Washington sebelumnya menuduh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman membunuh jurnalis pembangkang yang berbasis di AS, Jamal Khashoggi.
Kepentingan energi terus mengalami penyimpangan. Washington berulang kali mendesak OPEC+ untuk melepaskan pasokan minyak mentah lebih banyak ke pasar dan meringankan beban konsumen yang bersaing dengan akses energi terbatas setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Keputusan OPEC+ pada Oktober untuk mengurangi kuota produksi sebesar 2 juta barel per hari mulai November, menyebabkan perang kata-kata antara pejabat AS dan Saudi.
Harga minyak bergerak volatile, dengan kedua tolak ukur harga minyak Brent dan WTI mencatat penurunan mingguan terbesar karena meningkatnya kekhawatiran resesi.
Baca Juga:
CGTN Luncurkan News Pal, Asisten Berita Berbasis AI
Debut Global All-New TIGGO7 dan TIGGOX7 di CHERY Brand Night, Usung Semangat “Together. For Family”
Blokees Pamerkan Lebih dari 900 Produk di China Toy Expo 2026, Terus Perkuat Daya Saing Produk
Minyak mentah WTI turun 44 sen pada US$ 71,02 per barel pada Jumat, level terendah baru tahun 2022. Minyak mentah Brent ditutup 5 sen lebih rendah pada US$ 76,10 per barel.








