MEDIA EMITEN – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan, tak perlu perang dingin baru antara AS-China. Biden mengatakan hal itu setelah bertemu Presiden China Xi Jinping selama 3 jam di Bali.
Ia melihat As-China berbagi tanggung jawab untuk menunjukkan kedua negara dapat mengelola perbedaan, mencegah dari persaingan berubah menjadi konflik.
“Saya menilai, kami akan menemukan cara bekerja sama dalam masalah-masalah global mendesak yang membutuhkan kerja sama timbal balik kita,” kata Biden dalam pertemuan bilateral menjelang pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, Indonesia, pada 15-16 November 2022.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Biden juga mengaku tidak berpikir akan ada upaya segera oleh China untuk menyerang Taiwan, meskipun ada peningkatan retorika dan gerakan militer agresif RRT di Selat Taiwan.
Kedua pemimpin juga berbicara secara terus terang serta setuju mengirim diplomat dan anggota kabinet dari pemerintahan mereka untuk bertemu satu sama lain secara langsung guna menyelesaikan masalah yang mendesak.
Biden bertemu Xi merupakan pertemuan pertama mereka sejak ia menjabat di tengah bayang-bayang ketegangan atas invasi Rusia ke Ukraina. Pertemuan tersebut diharapkan kedua negara dapat mengelola perbedaan di tengah ketegangan politik.
Peristiwa tersebut juga telah lama dinanti-nantikan, mengingat hubungan kedua negara yang sedang berada di titik terendah dalam beberapa dekade terakhir akibat ketidaksepakatan atas sejumlah masalah, mulai dari isu Taiwan sampai soal perdagangan.
Baca Juga:
Dua Alumni Peking University Raih “Fields Medal”, Sebanyak 14 Akademisi PKU Tampil di ICM 2026
Dalam kesempatan itu, Biden juga mengungkapkan soal perubahan iklim dan kerawanan pangan sebagai masalah yang diharapkan oleh dunia untuk ditangani oleh kedua negara.
Menanggapi komentar Biden, Xi mengatakan hubungan antara kedua negaranya tidak memenuhi harapan global. “Jadi kami perlu memetakan arah yang tepat untuk hubungan China-AS. Kami perlu menemukan arah yang tepat, kata Xi.
Ia berharap dapat bekerja sama dengan Biden guna membawa hubungan itu kembali ke jalur yang benar.
Sebelum pertemuan itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning mengatakan bahwa China berkomitmen untuk hidup berdampingan secara damai tetapi akan dengan tegas mempertahankan kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunannya.
Baca Juga:
Pizza Hut Indonesia dan TUKR Rayakan 10 Tahun Pizza Maker Junior Ajak Anak Peduli Lingkungan
InfiMotion Technology Tampil Perdana ke Publik, Pamerkan Kapabilitas Lengkap E-Drive di Wuxi
Pemenang Stevie® Awards for Technology Excellence Tahunan Ketiga Diumumkan
Menurut laporan, pertemuan tatap muka perdana antara Biden (79 tahun) dan Xi (69 tahun) berlangsung dalam suasana hangat. Kedua pemimpin ini pun saling tersenyum, bahkan Biden terlihat berlari kecil dan mengulurkan tangan terlebih dahulu saat menghampiri Xi – yang lebih dahulu memasuki ruang pertemuan bilateral. Sementara, Xi menganggukkan kepala dan menyambut uluran tangan Biden.
“Senang bertemu dengan Anda,” demikian sapa Biden kepada Xi sambil mengenggam kedua tangan pemimpin Tiongkok itu.
Di hadapan awak media, Biden berkomitmen untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka baik di level pribadi dan pemerintah. Baik Biden dan Xi tidak memakai masker meskipun anggota delegasi kedua negara tetap mengenakan masker demi pencegahan penularan Covid-19.
Adapun topik utama diskusi diperkirakan seputar Taiwan, Ukraina dan ambisi nuklir Korea Utara. Permasalahan tersebut diprediksi turut membayangi kegiatan G20 yang diadakan tanpa kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin.
Namun, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov akan mewakili Putin di acara KTT G20 menyusul pernyataan Kremlin yang mengatakan ketidakhadiran Putin dikarenakan sedang sibuk.








