Bank Sentral AS Abaikan Kekhawatiran Inflasi, Suku Bunga Tak Berubah

- Pewarta

Kamis, 2 Mei 2019 - 04:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bank Sentral AS Abaikan Kekhawatiran Inflasi, Suku Bunga Tak Berubah

Mediaemiten.com, Washington – Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed) pada Rabu (1/5/2019)membiarkan suku bunga acuannya tidak berubah dan mengabaikan kekhawatiran tentang inflasi yang lemah, karena melihat tidak perlu mengubah pendekatan “sabar”-nya pada pergerakan suku bunga.

Dalam sebuah pernyataan setelah mengakhiri pertemuan kebijakan dua hari, The Fed mengatakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), komite pembuat kebijakan Fed, memutuskan untuk mempertahankan kisaran target untuk suku bunga Federal Fund pada 2,25 persen hingga 2,50 persen.

The Fed menegaskan kembali bahwa ia “akan bersabar” dengan penyesuaian tingkat suku bunga federal berikutnya, sehubungan dengan perkembangan ekonomi dan keuangan global dan “tekanan inflasi yang diredam.”

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Inflasi rendah, yang memberi kita kemampuan untuk bersabar dan kami memang mengharapkannya untuk naik dan kami ingin itu naik hingga dua persen,” kata Ketua Fed Jerome Powell pada konferensi pers, Rabu (1/5/2019). Ia percaya bahwa pelemahan tekanan harga baru-baru ini cenderung sementara.

“Kami pikir sikap kebijakan kami sesuai saat ini dan kami tidak melihat alasan kuat untuk bergerak ke arah mana pun,” katanya.

Pertemuan itu terjadi setelah Departemen Perdagangan melaporkan pekan lalu bahwa ekonomi AS berkembang pada tingkat tahunan sebesar 3,2 persen di kuartal pertama, sebagian besar didorong oleh ekspor dan investasi persediaan swasta yang kuat.

Pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan pada kuartal pertama telah meredakan kekhawatiran perlambatan ekonomi yang tajam, memberikan beberapa pejabat The Fed alasan untuk percaya bahwa bank sentral harus tetap pada rencana kenaikan suku bunga.

Tetapi beberapa ekonom menunjukkan bahwa headline angka pertumbuhan melebih-lebihkan kekuatan mendasar ekonomi AS, dan inflasi lemah yang terus-menerus membuka pintu bagi para pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga.

Tidak termasuk harga energi dan pangan yang fluktuatif, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti, ukuran inflasi yang disukai oleh Fed, naik 1,3 persen pada kuartal pertama, masih di bawah target bank sentral sebesar 2,0 persen.

“Jika kita melihat inflasi berjalan terus-menerus di bawah ini (2,0 persen), itu adalah sesuatu yang akan menjadi perhatian komite dan sesuatu yang akan kita pertimbangkan dalam penetapan kebijakan,” kata Powell, menolak mengatakan apakah The Fed akan mempertimbangkan penurunan suku bunga.

“Powell mencoba untuk meredam ekspektasi penurunan suku bunga preemptive terkait dengan inflasi. Dia menggarisbawahi bahwa The Fed masih percaya bahwa laju inflasi yang rendah adalah fenomena sementara,” tulis Diane Swonk, Kepala Ekonom di Grant Thornton LLP, menulis dalam sebuah analisis pada Rabu (1/5/2019).

“Federal Reserve sedang berada dalam situasi yang sulit, menyeimbangkan tingkat inflasi saat ini yang rendah terhadap risiko yang memicu penggelembungan aset tambahan. Ini akan membuat The Fed dalam posisi untuk mengamati situasi secara ketat,” tambah Swonk.

Meskipun ada spekulasi pasar tentang penurunan suku bunga, The Fed kemungkinan tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, kata para analis, karena khawatir bank sentral sepertinya akan menghadapi tekanan politik.

“Pejabat-pejabat Fed kemungkinan akan khawatir tentang risiko bahwa penurunan suku bunga dapat memicu politik atau pasar-pasar tidak jelas, yang mungkin keliru memotong (suku bunga) dalam menanggapi inflasi rendah karena kekhawatiran serius tentang prospek pertumbuhan,” kata Kepala Ekonom AS di Goldman Sachs, Jan Hatzius dalam catatan terbarunya.

Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mengkritik kenaikan suku bunga The Fed dan mendesak bank sentral untuk menurunkan suku bunga guna mendorong perekonomian.

“Federal Reserve kami terus-menerus menaikkan suku bunga, meskipun inflasi sangat rendah, dan melembagakan dosis pengetatan kuantitatif yang sangat besar,” kata Trump melalui Twitter pada Selasa (30/4/2019).

“Kami memiliki potensi untuk naik seperti roket jika kami melakukan beberapa penurunan suku bunga, seperti satu poin, dan beberapa pelonggaran kuantitatif,” tambah presiden.

Menanggapi pertanyaan tentang tekanan politik luar, Powell pada Rabu (1/5/2019) berjanji untuk mempertahankan independensi bank sentral.

“Kami adalah lembaga nonpolitis dan itu berarti kami tidak memikirkan pertimbangan politik jangka pendek,” kata Powell kepada wartawan.

“Kami tidak membahasnya dan kami tidak mempertimbangkannya dalam mengambil keputusan dengan satu atau lain cara,” katanya.

“Itu penting bagi The Fed untuk mempertahankan independensi dari tekanan politik yang selalu hadir di Washington,” kata Swonk. Demikian laporan yang dikutip dari Xinhua. (pep)

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru