Apresiasi Dolar Hantam Negara Berkembang Lebih Keras dari Negara Maju

- Pewarta

Kamis, 20 Juli 2023 - 08:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi:  Dana Moneter Internasional (IMF)/Dok.

Foto ilustrasi: Dana Moneter Internasional (IMF)/Dok.

MEDIA EMITEN – Apresiasi dolar AS memiliki dampak negatif yang lebih keras, terutama untuk aktivitas ekonomi dan impor, pada ekonomi pasar negara berkembang daripada negara maju.

Dana Moneter Internasional (IMF) Rabu 19 Juli 2023 dalam External Sector Report tahunannya menyebutkan, nilai tukar riil efektif dolar naik 8,3% pada 2022 ke level terkuat dalam dua dekade, di tengah serangkaian kenaikan suku bunga Federal Reserve untuk mengekang inflasi.

Di ekonomi pasar negara berkembang, apresiasi dolar 10%, terkait dengan kekuatan pasar keuangan global, menurunkan produksi produk domestik bruto (PDB) sebesar 1,9% setelah satu tahun, dan hambatan ini diperkirakan akan bertahan selama dua setengah tahun, menurut IMF.

Sebaliknya, efek negatif pada ekonomi negara maju jauh lebih kecil, dengan pengurangan output memuncak pada 0,6% setelah satu kuartal dan sebagian besar hilang dalam setahun, kata IMF.

Banyak ekonomi pasar negara berkembang juga mengalami ketersediaan kredit yang memburuk, berkurangnya arus masuk modal, dampak kebijakan moneter yang lebih ketat, dan penurunan pasar saham yang lebih besar, kata IMF.

Emerging markets dan ekonomi negara berkembang dengan kerentanan yang sudah ada sebelumnya seperti inflasi tinggi dan posisi eksternal yang tidak selaras mengalami tekanan depresiasi yang lebih besar, sementara ekonomi pengekspor komoditas mendapat manfaat dari kenaikan harga-harga komoditas,” kata IMF.

Laporan IMF juga menunjukkan bahwa apresiasi dolar memiliki dampak nyata pada pertumbuhan ekonomi global, yang tercermin dalam neraca transaksi berjalan global, metrik utama untuk menghitung jumlah neraca transaksi berjalan absolut di seluruh negara.

Menurut penilaian IMF, apresiasi dolar 10%dikaitkan dengan penurunan neraca transaksi berjalan global sebesar 0,4% dari PDB dunia setelah satu tahun.

Penurunan sebesar itu “signifikan secara ekonomi,” kata IMF, karena rata-rata neraca global selama dua dekade terakhir adalah sekitar 3,5% dari PDB dunia, dengan standar deviasi 0,7%.

Penurunan neraca global mencerminkan kontraksi berbasis luas dalam perdagangan dengan adanya harga mata uang yang dominan, yang difasilitasi oleh penyempitan neraca perdagangan komoditas, mengingat penurunan harga komoditas yang secara historis menyertai apresiasi dolar, tambahnya.

IMF menyatakan bahwa nilai tukar yang lebih fleksibel dan ekspektasi inflasi yang lebih kuat dapat mengurangi dampak negatif ke pasar negara berkembang.

Rilisbisnis.com mendukung program publikasi press release di media khusus ekonomi & bisnis untuk memulihankan citra yang kurang baik ataupun untuk meningkatan reputasi para pebisnis/entrepreneur, korporasi, institusi ataupun merek/brand produk.

IMF merekomendasikan agar negara-negara pasar berkembang bergerak menuju nilai tukar yang fleksibel dengan mengembangkan pasar keuangan domestik yang mengurangi sensitivitas pinjaman terhadap nilai tukar, dan berkomitmen untuk meningkatkan kerangka fiskal dan moneter, termasuk kemandirian bank sentral, untuk membantu menjangkarkan ekspektasi inflasi.

Di ekonomi pasar yang sedang berkembang dengan gesekan keuangan yang parah dan kerentanan neraca, langkah-langkah manajemen makroprudensial dan aliran modal dapat membantu mengurangi limpahan lintas batas yang negatif, kata IMF.

Berita Terkait

Pertemuan Delegasi BNSP, Kemnaker, & Kadin Indonesia dengan Zensho: Peluang Kerja 120 Ribu Tenaga Indonesia di Jepang Terbuka
Ambil Tindakan yang Lebih Defensif Terhadap Israel; Militer Republik Islam Iran Nyatakan Tak Ragu
Bertutur Kolaborasi: BNSP dan KJRI Hongkong Bahas Peningkatan Kompetensi Pekerja Migran
Wall Street Rebound, Invesor Cermati Imbal Hasil Obligasi
Wall Street Bervariasi, Dow Turun 0,2%
Wall Street Ambles Lebih dari 1%
Wall Street Rebound
Senin Pagi, Saham Asia Dibuka Bervariasi
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Senin, 15 April 2024 - 15:50 WIB

Ambil Tindakan yang Lebih Defensif Terhadap Israel; Militer Republik Islam Iran Nyatakan Tak Ragu

Kamis, 21 Desember 2023 - 21:58 WIB

Bertutur Kolaborasi: BNSP dan KJRI Hongkong Bahas Peningkatan Kompetensi Pekerja Migran

Jumat, 29 September 2023 - 08:01 WIB

Wall Street Rebound, Invesor Cermati Imbal Hasil Obligasi

Kamis, 28 September 2023 - 11:21 WIB

Wall Street Bervariasi, Dow Turun 0,2%

Rabu, 27 September 2023 - 08:01 WIB

Wall Street Ambles Lebih dari 1%

Selasa, 26 September 2023 - 08:06 WIB

Wall Street Rebound

Senin, 25 September 2023 - 08:37 WIB

Senin Pagi, Saham Asia Dibuka Bervariasi

Sabtu, 23 September 2023 - 09:21 WIB

Wall Street Turun Empat Hari Beruntun

Berita Terbaru