MEDIA EMITEN – Kelompok eksportir minyak dan sekutunya (OPEC+) setuju untuk mempertahankan kebijakan target pengurangan roduksi minyak mereka. Sebab, pasar minyak dinilai tengah berjuang dari dampak perlambatan ekonomi China dan pembatasan harga pada minyak Rusia oleh Uni Eropa .
OPEC + pada pertemuan Minggu waktu setempat setuju untuk mempertahankan kebijakan yang ada. Ini diambil dua hari setelah negara-negara Kelompok Tujuh (G7) menyetujui batasan harga minyak Rusia sebesar US$ 60 per barel.
Para menteri utamanya akan bertemu pada 1 Februari 2023 untuk komite pemantau, sementara pertemuan penuh dijadwalkan pada 3-4 Juni 2023.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada Jumat (1/12/2022), negara-negara G7 dan Australia menyetujui batas harga US$ 60 per barel untuk minyak mentah lintas laut Rusia sebagai langkah untuk menghilangkan pendapatan Presiden Vladimir Putin sambil menjaga agar minyak Rusia tetap mengalir ke pasar global.
Moskow mengatakan tidak akan menjual minyaknya di bawah batas dan sedang menganalisis bagaimana menanggapinya.
Banyak analis dan menteri OPEC mengatakan batas harga membingungkan dan mungkin tidak efisien karena Moskow telah menjual sebagian besar minyaknya ke negara-negara seperti China dan India, yang menolak mengutuk perang di Ukraina.
Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan, Rusia lebih suka memangkas produksi daripada memasok minyak di bawah batas harga dan mengatakan batas tersebut dapat mempengaruhi produsen lain.
Sumber mengatakan kepada Reuters bahwa beberapa anggota OPEC+ telah menyatakan frustrasi dengan batasan tersebut dengan mengatakan tindakan anti-pasar pada akhirnya dapat digunakan oleh Barat terhadap produsen mana pun.
Amerika Serikat mengatakan tindakan itu tidak ditujukan untuk OPEC.
JP Morgan mengatakan pada Jumat (1/12/2022), OPEC+ dapat meninjau produksi pada tahun depan berdasarkan data baru tentang tren permintaan China dan kepatuhan konsumen terhadap batasan harga pada produksi minyak mentah Rusia dan aliran tanker.






